Nganjuk Discoverynews.id – Pemerintah Kabupaten Nganjuk baru-baru ini menggelar Sarasehan Pemuda Kabupaten Nganjuk di Gedung Balai Budaya Pu Sindok. Acara ini fokus pada upaya pemanfaatan kearifan lokal “Pranoto Mongso” sebagai strategi mitigasi risiko iklim dan mewujudkan swasembada pangan di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Sistem penanggalan Pranata Mangsa sebagai kearifan lokal Jawa kuno, dikupas dalam Sarasehan Pemuda Kab.Nganjuk. Acara yang digelar di Graha Mpu Sindok ini bertema “Pranoto Mongso sebagai Mitigasi Risiko Iklim : Strategi Pemuda Mewujudkan Swasembada Pangan di Tengah Dinamika Geopolitik Dunia”
Kepala Kadisparporabud Nganjuk, Gunawan Widagdo mengatakan ada nilai luhur dalam pranata Mangsa yang memuat kehebatan leluhur Jawa mampu menggabungkan fenomena iklim dengan kondisi di bumi. Warisan budaya yang diwariskan secara turun temurun ini, menjadi pedoman bercocok tanam untuk mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan
Pemateri Sarasehan ini. KRT. Eko Agus Susilo, S.Sos., M.Si memberikan paparan tentang korelasi pertanian sehat dengan rujukan kalendar pranata mangsa, yang menekankan pentingnya kembali ke metode alami, penggunaan pupuk organik dan teknik pengendalian hama terpadu, seperti penggunaan parem wangi atau memanfatkan siklus alami serangga (seperti laron dan walang sangit) untuk menjaga tanaman tanpa bergantung pada pestisida kimia.
Pakar budaya Jawa yang juga Dosen program studi Ilmu Administrasi Bisnis, FISIP di Universitas Merdeka Malang ini menambahkan beberapa kearifan lokal pada di Nusantara termasuk Nganjuk sangat lekat dengan alam, seperti Bubak Bumi, Tjok Bakal, Wiwit, hingga Boyong Mbok Sri. “Semua ritus ini dilakukan dengan mengacu pada kalendar tanam” jelasnya
“Sistem penanggalan Pranata Mangsa, yang kita kenal secara baku saat ini merupakan hasil kodifikasi resmi Sri Susuhunan Pakubuwana VII, Raja Kasunanan Surakarta” ujarnya
Kendati pengetahuan tentang musim sudah ada jauh sebelumnya, Pranata Mangsa secara formal dideklarasikan sebagai kalender administratif dan panduan pertanian pada 22 Juni 1856. Raja Keraton Solo ini mengeluarkan kebijakan “agrikultur” berisi penetapan standar baku bagi para petani agar tidak lagi bingung menentukan masa tanam akibat variasi lokal.
Pakubuwana VII membagi satu tahun menjadi 12 mangsa (musim) dengan durasi yang tidak sama, mengikuti fenomena alam di tanah Jawa. Misalnya, Mangsa Katiga yang terjadi 25 Agustus – 17 September merupakan Puncak kemarau, panen palawija.
Secara epistemologi, Pranata Mangsa merupakan Fenologi, sebuah ilmu yang mempelajari siklus hidup atau kejadian biologis tahunan pada tumbuhan dan hewan -seperti waktu berbunga, bermigrasi, atau berkembang biak, serta bagaimana siklus tersebut dipengaruhi oleh perubahan cuaca dan musim.
Hadir dalam kegiatan itu, Gerakan Pemuda Marhaen Kab.Nganjuk, serta beberapa komunitas pemuda di kabupaten Nganjuk salah satunya juga pemuda GP Ansor kabupaten Nganjuk.
( Guntur)













Komentar