NIAS, DiscoveryNews.id -Masyarakat di perbatasan dua kabupaten, yakni Kecamatan Mandrehe Utara (Kabupaten Nias Barat) dan Kecamatan Botomuzoi (Kabupaten Nias), menyampaikan permohonan terbuka yang mendalam kepada Gubernur Sumatera Utara, Bapak Bobby Nasution.
Warga menitipkan sepatah kata penuh rintihan: “Seperti air digenang, seperti lalang ditiup angin.” Sebuah kiasan betapa rapuh dan terombang-ambingnya nasib kehidupan mereka tanpa kepastian arah pembangunan, menanti uluran tangan pemimpin layaknya air tenang yang tak mengalir, terabaikan di tengah pusaran kemajuan zaman.
Permohonan ini lahir dari kerinduan mendalam warga di Desa Ononamolo II, Desa Hilimbaruzo, Desa Tarahoso, Desa Taraha, Desa Lahagu, Desa Banua Sibohou, hingga Kecamatan Botomuzoi.
Wilayah-wilayah ini merupakan saksi bisu tempat Bapak Gubernur melangkah dan berjuang pada tahun 2024 lalu. Namun hingga detik ini, denyut nadi pembangunan jalan dan jembatan di desa-desa tersebut seolah terhenti.
Warga merasa seperti anak ayam yang kehilangan induknya—belum tersentuh oleh pembangunan, baik dari Pemerintah Kabupaten, Provinsi, maupun Pusat.Masyarakat sangat mendambakan kehadiran langsung Bapak Gubernur Bobby Nasution untuk menyaksikan sendiri bertaruhnya nyawa warga setiap hari demi melewati akses yang rusak parah.
Di sepanjang jalur ini, terdapat fasilitas vital seperti gedung PAUD/TK, SD, SMP, SMA/SMK, Puskesmas Pembantu, dan Poskesdes. Setiap pagi, anak-anak sekolah, ibu hamil, dan lansia harus bertaruh dengan lumpur dan bahaya demi mendapatkan hak dasar mereka sebagai warga negara.
Lebih memprihatinkan lagi, keterisolasian infrastruktur ini membuat program nasional besutan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yaitu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Program KMP, sama sekali belum bisa dinikmati oleh anak-anak sekolah, lansia, dan ibu hamil di wilayah ini.
Akses transportasi yang lumpuh total menjadi tembok tebal yang menghalangi keadilan sosial itu sampai ke piring-piring makanan anak-anak Nias. Hasil bumi petani seperti pisang, karet, dan pinang pun kerap membusuk karena ongkos angkut yang mencekik akibat jalan yang hancur.
Masyarakat mengajukan dua ruas jalan dan jembatan prioritas untuk segera dibangun:Ruas Jalan Utama Kecamatan Mandrehe Utara (± 6 KM): Menghubungkan Desa Hiliuso (Kec. Lolofitu Moi), Desa Ononamolo II, Desa Hilimbaruzo, Desa Tarahoso, Desa Taraha, hingga Jembatan Noyo di Desa Lahagu (Ibu Kota Kec. Mandrehe Utara, Kab. Nias Barat).
Ruas Jalan Alternatif Penghubung 2 Kabupaten (± 4 KM): Menghubungkan Simpang Jalan Provinsi Kec. Hiliserangkai/Botombawo (Kab. Nias), Kec. Botomuzoi, Desa Simanaere, Desa Banua Sibohou (Perbatasan Kab. Nias & Nias Barat), Desa Taraha, Jembatan Gantung Noyo, hingga Desa Lahagu.“Kami mengetuk hati nurani Bapak Gubernur Sumatera Utara, Bapak Bupati Nias Barat, Bapak Bupati Nias, serta para Anggota Dewan yang terhormat.
Jangan biarkan kami terus merasa menjadi warga pinggiran yang terlupakan. Kami sangat percaya pada komitmen dan keberpihakan Bapak Gubernur Bobby Nasution kepada rakyat kecil. Kami tidak meminta kemewahan, kami hanya meminta jalan dan jembatan agar anak-anak kami bisa sekolah dengan aman dan perut mereka bisa terisi oleh program pemerintah,” ungkap salah seorang perwakilan masyarakat dengan mata berkaca-kaca.
Masyarakat di perbatasan Nias dan Nias Barat menaruh harapan setinggi langit agar Pemerintah Provinsi Sumatera Utara segera mengulurkan tangan, turun ke lapangan, dan membebaskan mereka dari belenggu ketertinggalan yang sudah bertahun-tahun menjerat.
Redaktur : Redakpel DiscoveryNews.id Sumatera Utara.














Komentar