Pandeglang-Banten-Discoverynews]Pembangunan infrastruktur Irfom di Desa Idaman Kecamatan Patia yakni menjadi sorotan Publik.Pasalnya pembangunan tersebut dinilai minim Keterbukaan Informasi Publik (KIP) hingga memicu keluhan dari warga setempat dan sekaligus ketua kelompok tani.18/08/2026
Salah satu warga dan ketua kelompok tani mengaku pada sebelumnya tidak mengetahui secara pasti berapa besaran anggaran yang dikucurkan untuk proyek tersebut. Papan informasi kegiatan yang seharusnya terpasang transparan di lokasi pembangunan diduga tidak pernah dipasang.
“Kami selaku warga sangat berharap pihak pengelola memiliki keterbukaan informasi,mulai dari berapa besaran anggaran yang diserap hingga dari mana asal bantuan tersebut.Supaya warga di sini juga mengetahui dengan jelas.
“Keinginannya tentu seperti itu,jangan tiba-tiba langsung membangun tanpa kejelasan sumbernya.”Ungkap salah satu warga idaman yang enggan disebutkan namanya
Ketua Kelompok Tani (Poktan) Rikrik Gemi, Parta, memberikan keterangan saat ditemui awak media di kediamannya. Parta mengaku memang sejak awal pengerjaan hingga selesai,dirinya sama sekali tidak mengetahui besaran nominal anggaran maupun sumber bantuan proyek tersebut.
“Saya pribadi tidak mengetahui berapa anggarannya dan dari mana bantuannya, karena memang dari awal sampai sekarang tidak ada papan proyek yang terpasang.Untuk lebih jelasnya,silahkan konfirmasi ke Pak Dede, orang Kadubera, Kecamatan Picung.Soalnya saya selaku Ketua Poktan hanya menjalankan pengerjaan saja, masalah nilai anggaran saya tidak tahu. Bahkan Bendahara UPKK pun tidak mengetahuinya.”Paparnya Parta,
“Bangunan ini dikerjakan borongan pak sebesar Rp.5Jt sampai selesai.Alhamdulilah satu mingguan dikerjakan sudah selesai.Terkait bangunan yang mengalami keretakan saat ini karna cuaca panas hingga mengalami keretakan.”Tutup.Parta
Hal ini memicu tanda tanya besar dari salah satu kontrol sosial di wilayah tersebut.Pasalnya,sosok Pak Dede yang dimaksud diketahui berdomisili di Desa Kadubera Kecamatan Picung di luar wilayah administratif Desa Idaman.
“Ada apa dengan Pak Dede? Apakah beliau bertindak sebagai pemasok (supplier) atau ada peran lain? Mengapa pengelolaan dana atau komunikasi yang semestinya dikelola transparan oleh Ketua Kelompok Tani dan Bendahara UPKK (Unit Pengelola Keuangan dan Kegiatan) justru diarahkan ke luar ke atas nama pak Dede ? Ini proyek nilainya tidak sedikit.”Tegas salah satu kontrol sosial.
Sementara Korluh dan PPL Kecamatan patia Saat dikonfirmasi di pinta tanggapanya melalui telpon whatsap sekaligus chat whatsap mengenai persoalan ini, Yuyu selaku Koordinator Penyuluh (Korluh) Pertanian Kecamatan Patia belum memberikan tanggapan maupun klarifikasi resmi.Sikap diam yang sama juga ditunjukkan oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang bertugas di Desa Idaman
Sikap minim respons dari pihak pembina teknis di lapangan turut memperkeruh suasana.Kordinator Penyuluh (Korluh) Pertanian Kecamatan Patia serta Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang membawahi wilayah Desa Idaman terkesan memilih bungkam dan enggan memberikan klarifikasi terbuka terkait karut-marut tata kelola pembangunan IRFOM tersebut.
“Sebagai pejabat fungsional pembina,Korluh dan PPL memiliki kewajiban dan administratif untuk melakukan pendampingan,pengawasan teknis, serta memastikan seluruh tahapan kegiatan hingga pelaksanaan fisik berjalan sesuai aturan dan transparansi.”Papar salah satu kontrol sosial
“Sikap bungkam dari Korluh dan PPL ini sangat kita sayangkan dan justru makin memperkuat tanda tanya publik.Yang seharusnya meluruskan jika ada penyimpangan prosedur, bukan malah terkesan menutup mata atau melakukan pembiaran atas keterlibatan pihak luar dalam alur pengelolaan fisik maupun keuangan program IRFOM ini.”Pungkasnya salah satu kontrol sosial
Redaksi membuka ruang seluas-luasnya kepada pihak-pihak terkait untuk memberikan klarifikasi,tanggapan,maupun Hak Jawab terkait dugaan pembangunan irfom tersebut.









Komentar