Nias Barat, DiscoveryNews.id – 20 Agustus 2026 – Skandal pengelolaan dana publik kembali mencuat. Program Ketahanan Pangan melalui BUMDes Desa Hilimayo, Kecamatan Mandrehe Utara, Kabupaten Nias Barat, diduga gagal total dan berpotensi merugikan keuangan negara.
Dari 60 ekor ternak babi yang dibeli menggunakan dana desa, sebanyak 23 ekor mati massal. Ironisnya, program ini menyerap anggaran fantastis sekitar Rp500.000.000 untuk pembangunan kandang dan pengadaan bibit.
KEGAGALAN YANG MEMALUKAN
Warga Desa Hilimayo mengaku kecewa berat. Janji awal menyebut bibit telah “lolos uji laboratorium Perumda Tanomo”. Kenyataan di lapangan justru sebaliknya.
“Ini bukan hanya kerugian materi. Ini penghinaan terhadap kepercayaan rakyat. Kami takut penyakitnya menular ke ternak warga,” ujar salah satu warga yang enggan disebut namanya karena khawatir intimidasi.
PJ KADES BERKILAH: “INI WABAH ALAM”
Saat dikonfirmasi, Pj Kepala Desa Hilimayo, Natalius Gulo, berkelit. Ia menyalahkan wabah penyakit sebagai penyebab kematian.
“Kematian tersebut terjadi karena wabah. Bukan hanya babi BUMDes, ternak warga juga banyak yang mati. Kami sudah datangkan dokter hewan,” dalihnya.
Namun dalih itu mentah ketika ditanya soal transparansi anggaran.
DITANYA ANGGARAN, PJ KADES MINTA SURAT DULU! DIDUGA TUTUP-TUTUPI
Inilah titik paling memalukan. Ketika awak media menanyakan rincian Rp500 Juta, harga satuan bibit, dan keuntungan untuk rakyat, Pj Kades justru menjawab:
“Silakan kirim surat resmi dulu untuk permintaan informasi.”
Pernyataan ini adalah bentuk nyata ketidakpatuhan terhadap UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik*. Dana desa adalah uang rakyat. Bukan uang pribadi. Rakyat berhak tahu tanpa harus bersurat dulu.
“Kami wartawan, bukan panitera pengadilan. Tugas kami menyampaikan fakta kepada publik. Jika ada yang ditutupi, publik berhak curiga,” tegas awak media.
3 KEJANGGALAN YANG HARUS DIUSUT APH
Hingga berita ini naik, Pemdes Hilimayo belum mampu menjawab 3 hal krusial:
1. BERAPA HARGA SATUAN?* Berapa harga 1 ekor bibit dari total ±Rp500 Juta itu? Mark up atau tidak?
2. KEMANA SISA 37 EKOR? Dari 60 ekor, 23 mati. Bagaimana nasib dan laporan pertanggungjawaban 37 ekor lainnya?
3. DIMANA LAPORAN KEUANGAN? Rincian penggunaan dana ±Rp500 Juta untuk kandang dan bibit belum pernah dipublikasikan.
DESAKAN KERAS: AUDIT DAN EVALUASI!*l
Atas dugaan kelalaian dan ketertutupan ini, kami mendesak:
1. INSPEKTORAT & DINAS PMD KAB. NIAS BARAT segera melakukan audit investigatif terhadap BUMDes Hilimayo TA 2025. Jangan tunggu ada temuan BPK!
2. PJ KADES NATALIUS GULO segera mempublikasikan LPJ secara terbuka di balai desa. Stop berlindung di balik prosedur!
3. BUPATI & DPRD NIAS BARAT mengevaluasi PERUMDA TANOMO sebagai pemasok. Jika bibit “lolos lab” tapi mati massal, ini dugaan gagal produk atau korupsi pengadaan.
Uang rakyat bukan untuk dijadikan bangkai. Jika ada niat baik, buktikan dengan transparansi. Jika tidak, serahkan kepada aparat penegak hukum.
Catatan Redaksi:
DiscoveryNews.id memberikan hak jawab 1×24 jam kepada pihak terkait. Narahubung Redaksi: [No HP Redaksi
Reporter: Tim DiscoveryNews.id
Editor: Redaksi
Audit BUMDES Hilimayo 500Juta Jadi Bangkai NiasBarat KPK
Author: Haris
Post Views: 52















Komentar