GARUT Discoverynews.is— Mumtaz Peduli menggelar Lokakarya Pengembangan Pendanaan Komlit bertema “Strategi Penggalian Dana dan Manajemen Komlit” di Dispusip Garut, Minggu (23/8/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan H. Jenal Mutakin, M.Pd., Duta Literasi Jawa Barat, dan Eli Herdianga, Ketua Forum TBM Garut, sebagai narasumber.
Lokakarya membahas salah satu persoalan yang dihadapi komunitas literasi, yakni bagaimana membangun sumber pendanaan sekaligus mengelola komunitas agar mampu menjalankan program secara berkelanjutan.
Yayan Sanjaya, pendiri Rumah Baca Mumtaz Peduli, mengatakan penguatan gerakan literasi tidak cukup hanya dengan menghadirkan kegiatan membaca. Menurutnya, komunitas juga harus memiliki kemampuan dalam mengelola organisasi dan membangun keberlanjutan program.
“Gerakan literasi tidak cukup hanya mengandalkan semangat. Kita harus membangun sistem, memperkuat manajemen, dan membuka ruang kolaborasi agar gerakan ini bisa terus hidup,” kata Yayan.
Ia menilai pendanaan merupakan bagian penting dalam menjaga keberlangsungan kegiatan literasi. Namun, pendanaan tidak boleh menjadi tujuan utama hingga menggeser nilai dasar gerakan literasi.
“Pendanaan adalah alat untuk memperkuat gerakan, bukan tujuan dari gerakan itu sendiri. Yang harus kita jaga adalah bagaimana ruang literasi tetap menjadi ruang belajar bagi masyarakat,” ujarnya.
Yayan juga mendorong para pegiat literasi untuk mulai melihat komunitas sebagai sebuah organisasi yang membutuhkan perencanaan, pengelolaan sumber daya, serta jaringan kerja yang kuat.
Menurutnya, komunitas yang memiliki program baik harus mampu menjelaskan gagasan dan manfaat kegiatannya kepada masyarakat maupun calon mitra.
Lokakarya tersebut diharapkan menjadi ruang berbagi pengalaman bagi para pegiat literasi sekaligus memperkuat jejaring komunitas di Garut.
Melalui penguatan manajemen dan strategi pendanaan, gerakan literasi diharapkan tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang dan menjangkau lebih banyak masyarakat.
Bagi Mumtaz Peduli, pengembangan literasi merupakan kerja jangka panjang. Rumah baca tidak hanya dipandang sebagai tempat menyimpan dan membaca buku, tetapi sebagai ruang yang mempertemukan masyarakat dengan pengetahuan, diskusi, dan proses belajar.
Red












Komentar