DISCIVERYNEWS.ID – Keladi tikus merupakan tanaman yang cukup mudah ditemukan di tempat-tempat lembap dan kerap tumbuh secara liar. Tanaman dengan nama ilmiah Typhonium flagelliforme tersebut telah lama dikenal dalam pengobatan tradisional dan disebut memiliki berbagai potensi untuk membantu menjaga kesehatan.
Keladi tikus juga cukup populer karena dikaitkan dengan pengobatan kanker, khususnya kanker payudara. Sejumlah penelitian memang menunjukkan adanya potensi aktivitas biologis dari ekstrak tanaman ini. Namun, temuan tersebut belum berarti keladi tikus telah terbukti secara klinis dapat menggantikan pengobatan kanker yang diberikan dokter.
Dalam pengobatan tradisional Tiongkok, keladi tikus dikenal sebagai tanaman herbal yang memiliki potensi antikanker, antiinflamasi, dan antibakteri. Kandungan sejumlah senyawa aktif di dalamnya menjadi salah satu alasan tanaman tersebut terus diteliti.
Salah satu manfaat yang paling banyak diperbincangkan adalah potensinya terhadap kanker payudara. Penelitian Media Litbang Kesehatan pada 2009 melaporkan bahwa ekstrak etanol dari umbi keladi tikus dapat menghambat sekitar 50 persen pertumbuhan sel kanker payudara dalam pengujian yang dilakukan.
Potensi tersebut diduga berkaitan dengan berbagai senyawa yang terdapat dalam tanaman, antara lain flavonoid, tanin, terpenoid, sterol, triterpenoid, alkaloid, polifenol, Ribosome Inactivating Protein (RIP), dan fitol.
Penelitian lain yang diterbitkan pada 2015 di Jurnal Teknologi juga melaporkan adanya potensi ekstrak etanol keladi tikus dalam memicu kematian sel kanker. Meski demikian, hasil penelitian laboratorium tidak otomatis membuktikan bahwa tanaman tersebut efektif dan aman digunakan sebagai terapi kanker pada manusia.
Selain dikaitkan dengan kanker, keladi tikus juga diteliti karena berpotensi membantu meredakan batuk dan asma. Sebuah studi pada 2008 dalam Journal of Pharmacology and Toxicology melaporkan adanya aktivitas yang berkaitan dengan peradangan dan gangguan pernapasan. Kendati demikian, penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan manfaat tersebut.
Keladi tikus juga memiliki potensi sebagai antiinflamasi. Kandungan flavonoid dan senyawa lainnya diduga berperan dalam aktivitas tersebut. Sementara itu, penelitian yang diterbitkan dalam Procedia Chemistry pada 2014 menemukan adanya aktivitas antibakteri keladi tikus terhadap Bacillus subtilis dan Pseudomonas aeruginosa.
Kedua bakteri tersebut diketahui dapat berkaitan dengan berbagai jenis infeksi. Temuan ini menunjukkan bahwa keladi tikus memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan penelitian antibakteri, tetapi belum dapat dijadikan dasar untuk mengobati infeksi secara mandiri.
Tanaman ini juga disebut memiliki efek imunomodulator yang berpotensi membantu sistem kekebalan tubuh. Karena itu, keladi tikus kerap dikaitkan dengan upaya mengurangi efek samping kemoterapi. Namun, klaim tersebut masih membutuhkan bukti ilmiah yang lebih kuat, terutama melalui penelitian klinis pada manusia.
Waspadai Efek Samping dan Cara Pengolahan
Meski berasal dari tanaman, keladi tikus tidak otomatis aman untuk dikonsumsi tanpa memperhatikan dosis, cara pengolahan, maupun kondisi kesehatan seseorang. Bukti ilmiah mengenai keamanan dan efek samping penggunaan keladi tikus dalam jangka panjang juga masih terbatas.
Sebagian orang dapat mengalami reaksi alergi atau hipersensitivitas terhadap kandungan tertentu dalam tanaman herbal. Selain itu, tanaman yang tumbuh liar berisiko mengalami kontaminasi mikroorganisme maupun zat lain apabila tidak dibersihkan dan diolah dengan baik.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menjadikan keladi tikus sebagai pengganti obat dokter, terutama bagi penderita kanker atau penyakit serius lainnya. Penggunaan tanaman herbal sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan untuk menghindari risiko interaksi dengan obat maupun terapi yang sedang dijalani.
Dengan demikian, keladi tikus memang memiliki sejumlah potensi yang menarik untuk diteliti, termasuk aktivitas antikanker, antiinflamasi, dan antibakteri. Namun, potensi tersebut perlu dibedakan dari bukti bahwa tanaman tersebut sudah terbukti sebagai obat.
Bagi masyarakat yang tertarik menggunakan keladi tikus sebagai herbal, kehati-hatian menjadi hal utama. Jangan menghentikan pengobatan medis atau mengganti terapi dokter dengan keladi tikus hanya berdasarkan klaim atau informasi yang beredar di masyarakat.








Komentar