MAMASA, Discoverynews.id – Pengabdian seorang polisi di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar), tak hanya diwujudkan melalui tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Bripka Muh Nur Alam memilih mengabdikan sebagian waktunya dengan menjadi guru mengaji bagi anak-anak di wilayah pedalaman.
Personel Polres Mamasa yang bertugas di Polsek Mambi tersebut rutin menyambangi anak-anak di Desa Botteng, Kecamatan Mehalaan, yang merupakan wilayah binaannya sebagai Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas).
Selama sekitar tiga bulan terakhir, Bripka Nur Alam secara rutin mengajarkan membaca Al-Qur’an kepada anak-anak di lima dusun. Aktivitas itu dilakukan di sela-sela kesibukannya menjalankan tugas sebagai anggota kepolisian.
“Belum lama, baru jalan tiga bulan (ngajar ngaji),” kata Bripka Nur Alam kepada wartawan melalui sambungan telepon, Sabtu (29/8/2026).
Niat tersebut bermula ketika Bripka Nur Alam melihat anak-anak di wilayah binaannya hanya berkumpul karena tidak memiliki guru mengaji. Selama ini, kegiatan belajar Al-Qur’an banyak dibantu remaja dan mahasiswa setempat yang pulang kampung.
Namun, ketika para mahasiswa kembali ke kota untuk melanjutkan pendidikan, anak-anak kembali kesulitan mendapatkan guru mengaji.
“Pada saat saya sambang, saya melihat anak-anak di situ kumpul-kumpul saja, katanya tidak mengaji karena gurunya lagi ada kegiatan. Makanya saya ajak masuk ke masjid untuk mengaji,” ungkapnya.
Kondisi tersebut semakin menguatkan niat Bripka Nur Alam untuk turun langsung mengajar. Menurutnya, keterbatasan guru mengaji menjadi salah satu persoalan yang dirasakan masyarakat, sementara sebagian besar orang tua harus menghabiskan waktu bekerja di kebun.
“Memang guru ngajinya terbatas, ada beberapa mahasiswa, tapi kalau mereka sudah aktif lagi kuliah di kota, sudah tidak ada yang kasih belajar mengaji. Sementara warga lain khususnya para orang tua lebih banyak menghabiskan waktu di kebun,” ujarnya.
Bekal ilmu agama yang diperolehnya ketika menjadi santri di Pondok Pesantren DDI Manahlil Ulum Kaballangan, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, menjadi modal bagi Bripka Nur Alam untuk berbagi ilmu dengan anak-anak.
“Saya termotivasi, apalagi saya juga pernah sekolah agama di Pesantren Kaballangan Pinrang,” tuturnya.
Kini, sedikitnya 45 anak rutin mengikuti pembelajaran mengaji yang diberikan Bripka Nur Alam. Mereka tersebar di lima dusun di Desa Botteng, dengan jumlah rata-rata delapan hingga 10 anak setiap dusun.
Agar seluruh anak mendapatkan kesempatan belajar, jadwal mengaji dibuat secara bergiliran. Dalam sehari, Bripka Nur Alam mendatangi satu dusun dan mengajar di masjid setempat.
Namun, perjuangan tersebut tidak selalu mudah. Sejumlah masjid yang digunakan sebagai tempat belajar masih dalam kondisi memprihatinkan. Ketersediaan Al-Qur’an pun menjadi salah satu kendala dalam proses pembelajaran.
“Belajarnya di masjid yang kondisinya juga cukup memprihatinkan. Kami juga kekurangan Al-Qur’an yang sangat dibutuhkan anak-anak untuk belajar mengaji,” katanya.
Untuk mencapai Desa Botteng dari Polsek Mambi, Bripka Nur Alam harus menempuh perjalanan sekitar 15 kilometer. Dari jarak tersebut, sekitar 10 kilometer di antaranya merupakan ruas jalan yang masih rusak parah dan sulit dilalui.
Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri, terlebih ketika musim hujan tiba. Jalan yang rusak membuat perjalanan menuju lokasi binaan semakin sulit.
“Kalau jaraknya itu sekitar 15 kilometer dari Polsek. Tapi sekitar 10 kiloan yang masih rusak parah dan sulit dilalui, apalagi saat musim penghujan,” ujarnya.
Meski demikian, kondisi medan tak membuat Bripka Nur Alam menyerah. Sedikitnya tiga kali dalam sepekan dia tetap berusaha mendatangi anak-anak untuk mengajar mengaji. Frekuensinya bahkan bisa bertambah ketika tugas kedinasan tidak terlalu padat.
“Paling sedikit tiga kali seminggu saya mengajar mengaji. Kalau lagi tidak banyak tugas kedinasan, biasanya bisa lebih, tergantung kondisi,” tuturnya.
Dedikasi tersebut rupanya mendapat perhatian dari masyarakat. Sejumlah warga bahkan meminta Bripka Nur Alam tinggal di desa agar bisa lebih intensif mendampingi anak-anak.
“Warga sering meminta saya tinggal. Tapi sulit juga, karena kita sebagai polisi juga banyak tugas lain yang tidak kalah penting,” jelasnya.
Pengabdian Bripka Nur Alam tidak berhenti pada kegiatan mengajar mengaji. Bersama seorang ulama setempat, dia kini tengah merancang pembangunan rumah tahfidz Al-Qur’an.
Rumah tahfidz tersebut nantinya diharapkan menjadi tempat belajar bagi masyarakat, khususnya keluarga kurang mampu. Anak-anak maupun orang tua yang ingin belajar membaca Al-Qur’an akan diberikan kesempatan belajar secara gratis.
“Yang tidak mampu, orang tua tidak mampu baca tulis Al-Qur’an kita kasih masuk semua di sana, gratis. Kami sementara berusaha cari lahan, Insya Allah terwujud,” ungkapnya.
Bagi Bripka Nur Alam, menjadi polisi bukan hanya tentang menjaga keamanan. Pengabdian juga dapat dilakukan dengan memberikan ilmu dan mendampingi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan mengaji tersebut, dia berharap anak-anak di pedalaman Mamasa semakin dekat dengan Al-Qur’an sekaligus tumbuh dengan pendidikan agama yang baik.
Lebih dari itu, kegiatan sederhana tersebut diharapkan mampu memperkuat hubungan antara polisi dan masyarakat.
“Selain memberikan rasa aman dan tenteram kepada masyarakat, melalui kegiatan ini kami berharap dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada Polri,” pungkasnya.















Komentar