MAMUJU, Discoverynews.id – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat terus memperkuat peran keluarga dan masyarakat dalam mendukung kesehatan ibu dan anak, khususnya keberhasilan pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif.
Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen DKPPKB Sulbar dalam mendukung visi dan misi Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka, yakni Sulbar Maju dan Sejahtera, dengan menempatkan pembangunan kesehatan serta peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak awal kehidupan sebagai salah satu prioritas.
Kepala DKPPKB Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, menegaskan bahwa keberhasilan pemberian ASI Eksklusif bukan hanya menjadi tanggung jawab seorang ibu. Menurutnya, dukungan suami, keluarga, kader Posyandu hingga tenaga kesehatan sangat menentukan keberhasilan ibu dalam memberikan ASI.
“Ibu menyusui tidak boleh berjuang sendiri. Dukungan ayah dan keluarga sangat penting, karena keberhasilan pemberian ASI merupakan tanggung jawab bersama,” ujar dr. Nursyamsi.
Ia mengatakan, DKPPKB Sulbar ingin membangun kesadaran bahwa menjaga kesehatan ibu dan anak harus menjadi gerakan bersama yang dimulai dari lingkungan keluarga.
“Dimulai dari ayah, diperkuat keluarga, didampingi kader dan tenaga kesehatan, lalu menjadi gerakan masyarakat,” tambahnya.
Penguatan komitmen tersebut sejalan dengan keikutsertaan kader dan jajaran kesehatan Sulawesi Barat secara daring dalam Webinar Series Kader Posyandu bertajuk “NGOBRAS ASI (Ngobrol Bareng Kader Seputar ASI)”, yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan RI pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Webinar nasional tersebut mengusung tema “Menggerakkan Masyarakat dan Keluarga dalam Mendukung Pemberian ASI Eksklusif”, dengan subtema “Dari Dukungan Ayah, Menjadi Gerakan Keluarga dan Masyarakat.”
Dalam kegiatan itu, Co-Founder AyahASI Indonesia, Rahmat Hidayat, memaparkan pentingnya keterlibatan aktif ayah selama periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (1.000 HPK).
Peran ayah tidak hanya sebatas memberikan dukungan secara verbal, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan nyata. Di antaranya membantu pekerjaan rumah tangga, memberikan penguatan emosional kepada ibu, mendampingi ketika menghadapi kendala menyusui, serta terlibat dalam kegiatan Posyandu dan pemantauan tumbuh kembang anak.
Untuk memastikan edukasi tersebut memberikan dampak luas di masyarakat, dr. Nursyamsi Rahim juga mendorong kader Posyandu menjadi komunikator yang efektif di tingkat lapangan.
Kader diharapkan tidak hanya berfokus memberikan edukasi kepada ibu, tetapi juga aktif merangkul ayah dan anggota keluarga lainnya agar tercipta lingkungan yang mendukung keberhasilan ASI Eksklusif.
DKPPKB Sulbar menekankan sejumlah pendekatan yang dapat diterapkan kader dalam memberikan pendampingan kepada keluarga.
Pertama, Dengar–Gali–Bantu, yakni mendengarkan pengalaman keluarga, menggali kendala yang dihadapi, kemudian memberikan bantuan atau menghubungkan keluarga dengan fasilitas kesehatan yang tepat.
Kedua, Kenali–Dukung–Rujuk, yaitu mengenali potensi masalah kesehatan sejak dini, memberikan dukungan sesuai kapasitas kader, serta melakukan rujukan kepada tenaga medis apabila diperlukan penanganan lebih lanjut.
Ketiga, edukasi praktis, dengan menerapkan pola “1 masalah, 1 pesan utama, 1 tindakan sederhana”. Pendekatan tersebut diharapkan membuat pesan kesehatan dari Posyandu lebih mudah dipahami dan diterapkan keluarga dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui penguatan kapasitas kader serta kolaborasi antara ayah, keluarga, masyarakat dan tenaga kesehatan, DKPPKB Sulbar optimistis tercipta ekosistem yang semakin kondusif bagi ibu menyusui.
Upaya tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan keberhasilan ASI Eksklusif, tetapi juga berkontribusi dalam menekan masalah gizi dan mendukung tumbuh kembang anak.
Pada akhirnya, penguatan peran keluarga dalam kesehatan ibu dan anak menjadi investasi penting untuk melahirkan generasi Sulawesi Barat yang sehat, cerdas dan berkualitas, sekaligus memperkuat langkah menuju Sulbar Maju dan Sejahtera.














Komentar