oleh

Program ATS Gubernur SDK Melahirkan Relawan Muda, Kisah Rio Jadi Sorotan

MAMUJU, Discoverynews.id – Program pengembalian Anak Tidak Sekolah (ATS) yang digagas Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka (SDK) mulai menunjukkan dampak yang lebih luas. Bukan hanya mengembalikan anak ke bangku pendidikan, program tersebut juga mulai menumbuhkan kepedulian sosial di kalangan anak-anak yang sebelumnya menjadi bagian dari ATS.

Salah satu kisah tersebut datang dari Rio, remaja asal Rantebulahan, Kabupaten Mamasa. Rio sebelumnya masuk dalam kategori Anak Tidak Sekolah. Setelah berhasil mendapatkan akses pendidikan dan kembali bersekolah di SMK Rantebulahan Timur, Rio kini justru mengambil peran sebagai relawan dengan membantu mencari teman-temannya yang masih belum bersekolah.

Rio tidak sekadar kembali menjalani aktivitas sebagai pelajar. Ia mulai aktif mencari anak-anak di lingkungannya yang mengalami persoalan pendidikan dan berusaha membantu mereka agar kembali mendapatkan kesempatan untuk belajar.

Terbaru, Rio melaporkan kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sulawesi Barat, Muhammad Nehru Sagena, mengenai dua orang temannya yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang SMK.

Kedua anak tersebut menghadapi persoalan berbeda. Salah satunya berhenti sekolah ketika hendak mengikuti ujian kelas IX SMP, sedangkan seorang lainnya berhenti saat masih duduk di kelas VIII.

“Di sini ada teman saya dua orang yang mau melanjut ke SMK, Pak Kadis. Tapi yang jadi masalah, yang satunya tinggal saat mau ujian kelas 9 di SMP dan yang satunya tinggal saat kelas 8 SMP. Kira-kira solusinya bagaimana?” tulis Rio kepada Kadis Nehru melalui pesan WhatsApp, Minggu (30/8/2026).

Menanggapi laporan tersebut, Nehru kemudian mengarahkan Rio untuk mencari solusi pendidikan yang memungkinkan bagi kedua temannya. Salah satu opsi yang dapat ditempuh adalah mengikuti program Paket B sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Bagi Nehru, langkah yang dilakukan Rio menjadi salah satu kisah menarik dari pelaksanaan program penanganan ATS di Sulawesi Barat. Pengalaman Rio yang sebelumnya merasakan sulitnya mendapatkan akses pendidikan justru mendorongnya untuk membantu anak-anak lain yang mengalami persoalan serupa.

“Ini dulunya anak tidak sekolah, sekarang setelah kita kembalikan ke sekolah, dia sendiri mau jadi relawan. Dia pergi sendiri mencari anak tidak sekolah dan dia sendiri mendapatkan anak-anak,” kata Nehru, Rabu (2/9/2026).

Menurutnya, perubahan yang ditunjukkan Rio memperlihatkan bahwa program pengembalian ATS tidak berhenti pada target mengembalikan anak ke sekolah. Lebih jauh, program tersebut dapat membangun kepedulian sosial dan mendorong anak untuk ikut membantu sesamanya.

“Menurut saya ini satu kisah menarik. Bagaimana program ini bisa mendorong anak-anak untuk peduli kepada sesamanya. Ketika dia mendapatkan kebaikan, dia juga mau teman-temannya mendapatkan kebaikan,” ujarnya.

Nehru menilai, sikap Rio merupakan bentuk pembelajaran sosial yang penting bagi anak-anak. Kepedulian yang tumbuh dari pengalaman pribadi dapat menjadi kekuatan tambahan dalam memperluas jangkauan penanganan Anak Tidak Sekolah di Sulawesi Barat.

“Ini satu pembelajaran yang penting untuk anak-anak saling support, karena menimbulkan kepedulian sosial sesama mereka,” lanjutnya.

Di sisi lain, Pemprov Sulbar terus melakukan penanganan ATS melalui pendataan, rekonfirmasi hingga penjangkauan langsung di lapangan. Upaya tersebut melibatkan relawan serta dukungan laporan masyarakat untuk memastikan anak-anak yang masih berada di luar sistem pendidikan dapat kembali memperoleh akses belajar.

Berdasarkan data aplikasi PAPPASIKOLAI dan laporan masyarakat melalui MASIGA Disdikbud Sulbar per Rabu (2/9/2026), tercatat 499 data ATS telah direkonfirmasi oleh relawan dan dimasukkan ke dalam aplikasi.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 301 merupakan laki-laki dan 198 perempuan dengan rata-rata usia sekitar 17 tahun.

Data yang telah direkonfirmasi berasal dari lima kabupaten, yakni Polewali Mandar sebanyak 260 anak, Majene 183 anak, Mamasa 30 anak, Mamuju Tengah 18 anak dan Mamuju delapan anak. Sementara itu, Pasangkayu belum memiliki data yang masuk dalam pencatatan tersebut.

Untuk pilihan kembali ke jalur pendidikan, sebanyak 315 anak tercatat memilih melanjutkan melalui pendidikan nonformal, sedangkan empat anak memilih jalur pendidikan formal.

Selain hasil rekonfirmasi relawan, laporan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam proses penjangkauan ATS. Hingga saat ini tercatat 272 laporan masyarakat terkait anak yang ingin kembali bersekolah.

Dari jumlah tersebut, 246 laporan telah selesai ditindaklanjuti oleh relawan, sementara 26 laporan lainnya masih berstatus pending.

Kisah Rio menjadi gambaran bahwa keberhasilan mengembalikan anak ke sekolah tidak hanya diukur dari bertambahnya jumlah anak yang kembali belajar. Lebih dari itu, ketika seorang anak yang pernah kehilangan kesempatan pendidikan kemudian tergerak membantu teman-temannya, program tersebut telah melahirkan efek berantai berupa kepedulian dan semangat untuk saling mendukung.

Dari seorang Anak Tidak Sekolah, Rio kini menjadi bagian dari upaya mengajak anak-anak lain kembali meraih kesempatan pendidikan. Sebuah kisah kecil yang menunjukkan bahwa program penanganan ATS di Sulbar mulai melahirkan gerakan dari anak untuk anak.

A.Fathir
Author: A.Fathir

Komentar

News Feed