Di Negeri Konoha, sekolah masih berdiri. Guru masih mengajar. Murid masih duduk di bangku kelas. Upacara masih berlangsung setiap Senin.
Semuanya tampak normal.
Yang tidak normal adalah ketika pendidikan perlahan diperlakukan seperti pasar.
Anggaran dihitung, proyek dibuat, gedung dibangun, program diluncurkan dan laporan disusun. Semuanya tampak rapi dalam dokumen. Tetapi di balik angka-angka itu, masyarakat berhak bertanya: apakah uang pendidikan benar-benar sampai kepada pendidikan?
Sebab dalam wajah pendidikan kapitalis, bukan hanya gedung dan proyek yang dapat berubah menjadi komoditas. Bahkan murid pun bisa berubah menjadi angka yang memiliki nilai ekonomi.
Sekolah dengan jumlah murid sedikit, misalnya, akan menjadi persoalan serius apabila dalam laporan justru muncul angka yang lebih besar daripada kondisi sebenarnya. Jika benar terdapat ketidaksesuaian data, pertanyaannya menjadi lebih besar: untuk apa angka murid diperbesar? Apakah hanya kesalahan administrasi, atau ada kaitannya dengan kepentingan alokasi anggaran?
Murid yang seharusnya dipandang sebagai manusia yang sedang dibentuk masa depannya, akhirnya berpotensi diperlakukan seperti satuan perhitungan.
Satu murid bernilai sekian.
Seratus murid bernilai sekian.
Semakin besar angka di atas kertas, semakin besar pula kemungkinan ruang anggaran yang mengikuti angka tersebut.
Di sinilah ironi pendidikan Negeri Konoha mencapai puncaknya.
Anak-anak diajarkan bahwa satu ditambah satu sama dengan dua. Mereka diajarkan kejujuran, tanggung jawab dan moral. Tetapi masyarakat kemudian dihadapkan pada pertanyaan tentang angka-angka yang seharusnya sederhana: berapa murid sebenarnya, berapa anggaran sebenarnya, berapa pekerjaan sebenarnya, dan berapa hasil yang benar-benar terlihat?
Murid belajar matematika di dalam kelas.
Sementara di luar kelas, masyarakat dipaksa mempertanyakan matematika anggaran.
Lebih ironis lagi ketika proyek pendidikan diduga mengalami potong-memotong anggaran, sementara hasil pekerjaan di lapangan tidak selalu sebanding dengan nilai yang tercantum dalam dokumen. Jika dugaan itu terbukti, maka pendidikan bukan lagi sekadar menghadapi masalah administrasi, tetapi menghadapi persoalan moral dalam pengelolaan uang publik.
Karena yang dipotong bukan hanya angka.
Yang ikut terpotong adalah kualitas ruang belajar, fasilitas siswa, kesempatan guru, dan masa depan anak-anak.
Inilah wajah pendidikan kapitalis di Negeri Konoha: sekolah menjadi tempat belajar, tetapi sistem di sekelilingnya berpotensi menjadikan pendidikan sebagai pasar; murid menjadi peserta didik, tetapi sekaligus bisa berubah menjadi angka statistik; proyek menjadi sarana pembangunan, tetapi dapat pula dipertanyakan ketika nilai anggaran tidak sejalan dengan kenyataan.
Jika pendidikan benar-benar investasi masa depan, maka yang harus dihitung bukan sekadar berapa besar anggarannya.
Yang harus dihitung adalah berapa besar manfaat yang benar-benar sampai kepada anak-anak.
Sebab negara tidak sedang membangun angka.
Negara sedang membangun manusia.
Dan ketika angka dalam laporan menjadi lebih penting daripada anak yang benar-benar duduk di bangku sekolah, mungkin yang membutuhkan pendidikan bukan hanya muridnya.
Sistemnya juga.















Komentar