OPINI — Ada kekayaan yang selama ini mungkin hanya dipandang sebagai bagian dari tanah yang kita pijak, tetapi sesungguhnya memiliki nilai strategis bagi masa depan dunia. Salah satunya adalah logam tanah jarang atau rare earth elements (REE).
Di tengah perlombaan global menuju energi bersih, kendaraan listrik, teknologi digital, industri pertahanan hingga perangkat elektronik modern, logam tanah jarang semakin menjadi komoditas strategis. Karena itu, ketika potensi sumber daya semacam ini dikaitkan dengan Mamuju, Sulawesi Barat, pembicaraan kita tidak boleh berhenti pada pertanyaan: berapa besar nilai tambangnya?
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apa yang akan diperoleh masyarakat Mamuju dari kekayaan tersebut?
Inilah titik paling krusial.
Mamuju tidak boleh hanya menjadi tempat di mana sumber daya alam digali, diangkut, lalu nilai tambahnya dinikmati di tempat lain. Sejarah pengelolaan sumber daya alam di berbagai daerah seharusnya menjadi pelajaran bahwa kekayaan alam tidak otomatis menghadirkan kesejahteraan apabila tata kelolanya lemah.
Tambang logam tanah jarang memang dapat menjadi peluang besar. Jika dikelola secara serius, keberadaannya dapat membuka lapangan kerja, meningkatkan penerimaan daerah, mendorong pembangunan infrastruktur, menggerakkan usaha lokal, sekaligus membuka pintu bagi tumbuhnya industri berbasis teknologi.
Tetapi peluang selalu datang bersama risiko.
Pertambangan memiliki konsekuensi terhadap lingkungan, tata ruang, sumber air, lahan produktif dan kehidupan masyarakat sekitar. Karena itu, setiap rencana eksploitasi harus didahului kajian ilmiah yang transparan dan dapat diuji publik.
Jangan sampai kata “strategis” kemudian menjadi alasan untuk mengabaikan lingkungan dan masyarakat.
Mamuju membutuhkan model pembangunan yang berbeda. Bila benar terdapat potensi logam tanah jarang yang bernilai strategis, maka pemerintah, masyarakat, akademisi dan dunia usaha harus duduk bersama sejak awal. Data mengenai cadangan, metode penambangan, teknologi pengolahan, dampak lingkungan, kebutuhan investasi, hingga skema pembagian manfaat harus terbuka.
Masyarakat tidak boleh hanya mengetahui tambang ketika alat berat sudah masuk ke lokasi.
Masyarakat harus menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan.
Lebih jauh, yang harus dipikirkan bukan sekadar menjual bahan mentah. Nilai tambah harus sebisa mungkin dibangun di Mamuju.
Jika logam tanah jarang memang menjadi bahan penting bagi industri masa depan, maka Mamuju seharusnya bercita-cita lebih besar. Bukan hanya menjadi daerah penghasil bahan tambang, tetapi menjadi bagian dari rantai industri yang menghasilkan produk bernilai tinggi.
Untuk menuju ke sana tentu tidak mudah. Dibutuhkan investasi, teknologi, sumber daya manusia, riset, pendidikan vokasi, kepastian hukum dan infrastruktur. Namun justru di situlah peluang pembangunan jangka panjang berada.
Anak-anak muda Mamuju harus dipersiapkan sejak sekarang. Jangan sampai ketika industri datang, tenaga ahli dan pekerja dengan keterampilan tinggi justru didatangkan dari luar daerah, sementara masyarakat lokal hanya menjadi penonton atau pekerja pada level paling bawah.
Jika tambang menjadi kenyataan, maka pendidikan harus menjadi bagian dari investasi pertambangan.
Pemerintah daerah dapat mendorong program beasiswa, pendidikan vokasi, pelatihan teknologi pertambangan, pengelolaan lingkungan, keselamatan kerja hingga kewirausahaan. Perusahaan pun harus memiliki komitmen membangun kapasitas masyarakat lokal, bukan sekadar menjalankan kewajiban sosial formal.
Di sisi lain, pemerintah daerah harus memiliki posisi tawar yang kuat.
Mamuju harus memastikan bahwa setiap kebijakan pertambangan memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat. Mulai dari kesempatan kerja, pemberdayaan UMKM, pembangunan infrastruktur, peningkatan pendapatan daerah hingga perlindungan terhadap hak masyarakat yang berada di sekitar wilayah pertambangan.
Sebab sumber daya alam bukan hanya soal batuan dan mineral. Di atas tanah itu ada manusia, ada ruang hidup, ada kebun, ada sumber air, ada budaya dan ada masa depan generasi berikutnya.
Karena itu, kita tidak boleh terjebak pada dua kutub ekstrem: menganggap tambang sebagai jawaban atas seluruh persoalan ekonomi atau menolaknya tanpa melihat peluang yang mungkin tersedia.
Yang dibutuhkan Mamuju adalah keberanian untuk mengambil manfaat sekaligus ketegasan untuk mengendalikan risikonya.
Jika eksplorasi dan pengembangan logam tanah jarang benar-benar dilakukan, maka transparansi harus menjadi fondasi. Pemerintah wajib membuka informasi yang dapat dibuka kepada publik. Kajian lingkungan harus independen dan serius. Pengawasan harus berjalan. Perusahaan harus bertanggung jawab. Dan masyarakat harus memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan apakah Mamuju memiliki kekayaan alam.
Pertanyaan terbesarnya adalah apakah Mamuju mampu mengelola kekayaan tersebut dengan visi yang jauh ke depan.
Sebab tambang suatu hari akan berhenti. Cadangan mineral bisa habis. Tetapi jika kekayaan alam itu berhasil dikonversi menjadi pendidikan, keterampilan, industri, infrastruktur dan kesejahteraan masyarakat, manfaatnya dapat bertahan jauh lebih lama daripada umur tambang itu sendiri.
Mamuju jangan hanya menjadi daerah yang kaya karena tanahnya. Mamuju harus menjadi daerah yang maju karena mampu mengubah kekayaan tanahnya menjadi masa depan bagi rakyatnya.
Itulah tantangan sebenarnya dari logam tanah jarang.
Bukan sekadar bagaimana mengambilnya dari bumi, tetapi bagaimana memastikan ketika kekayaan itu diambil, masa depan Mamuju justru semakin terang, bukan semakin gelap.













Komentar