oleh

Jalan Amblas Ditelan Bumi, BMKG Sebut Likuifasi di Nagekeo pasca Gempa 7,7 M

NAGEKEO, DiscoveryNewsId– Gempa 7,7 Magnitudo yang mengguncang Flores tidak hanya meninggalkan retakan. Fakta baru yang lebih mengerikan terungkap di Kabupaten Nagekeo.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menemukan indikasi kuat fenomena likuifaksi di sejumlah titik infrastruktur yang hancur.

Bukan sekadar aspal retak. Foto yang diterima redaksi menunjukkan jalan utama terbelah menganga, amblas lebih dari 1 meter, dan bergeser seperti ditelan bumi. Kerusakan ini tidak wajar.

Tim BMKG yang turun langsung ke lapangan menegaskan kerusakan tersebut adalah ciri khas likuifaksi, dimana tanah yang jenuh air kehilangan kekuatan akibat guncangan gempa yang sangat kuat.

“Ini indikasi likuifaksi. Tanah kehilangan kekuatan, mencapai akibat guncangan 7,7 Magnitudo. Jalan yang padat bisa tiba-tiba amblas,” ungkap Tim BMKG di lokasi kejadian.

Fenomena ini terjadi ketika guncangan hebat membuat tekanan air di dalam tanah naik drastis, sehingga tanah padat berubah sifat seperti lumpur cair.

Fenomena yang dijelaskan BMKG itu dirasakan langsung oleh warga. Warga melaporkan air tanah tiba-tiba menyembur dari retakan jalan, dan lumpur naik ke permukaan sesaat setelah gempa.

“Malam gempa itu, tanah  bergoyang seperti air. Jalan depan rumah tiba-tiba turun,” kata Nonik, warga Nagekeo, menggambarkan kepanikan saat kejadian.

Hingga hari ini, akses jalan utama di beberapa titik di Nagekeo dilaporkan masih terputus total akibat amblasnya badan jalan.

Pemerintah daerah dan provinsi NTT menuai sorotan: Jangan Bangun Bencana Baru di Atas Zona Likuifaksi!

Jika pembangunan kembali dilakukan di atas zona likuifaksi tanpa pemetaan ulang, maka sama saja dengan membangun bencana baru.

Pemkab Nagekeo dan Pemerintah Provinsi NTT harus segera bertindak:

1. Hentikan sementara pembangunan hunian tetap di lokasi yang terindikasi likuifaksi.

2. Lakukan pemetaan ulang tata ruang dan mikrozonasi bersama BMKG dan PVMBG.
3. Sosialisasikan zona aman kepada warga agar tidak kembali membangun di atas tanah yang labil.

BMKG sudah memberi lampu kuning. Kini bola ada di pemerintah. Jangan sampai ada korban kedua karena salah membangun di atas tanah yang sudah “mati”. (Afrianus Cundul/Red)

Risal Boimau
Author: Risal Boimau

Komentar