SILUNGKANG, 18 September 2026 — Di tengah kondisi kabut asap yang semakin tebal, kekeringan yang mulai berdampak pada tanaman dan sulitnya mendapatkan sumber air bersih, pengurus Masjid Tepi Air Silungkang mengajak umat untuk kembali berserah diri kepada Allah SWT.
Ikhtiar tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan shalat istisqa atau shalat meminta hujan, Jumat (18/9/2026), yang dilaksanakan sesaat setelah pelaksanaan shalat Jumat di Masjid Tepi Air Silungkang.
Masjid Tepi Air Silungkang sendiri sebelumnya merupakan Surau Tepi Air. Perubahan status dari surau menjadi masjid baru saja diresmikan beberapa waktu lalu. Di tengah ujian alam yang sedang dirasakan masyarakat, masjid tersebut kembali menjadi tempat berkumpulnya umat untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT.
Kondisi kabut asap yang semakin pekat bahkan telah berdampak pada aktivitas pendidikan. Sejumlah anak harus dipindahkan kegiatan belajarnya ke rumah masing-masing. Di sisi lain, kekeringan mulai menyebabkan tanaman banyak yang mati, sementara ketersediaan air bersih juga semakin sulit diperoleh.
Dalam kondisi tersebut, pengurus Masjid Tepi Air menilai bahwa selain berbagai ikhtiar manusia, umat Islam juga memiliki tuntunan untuk memohon pertolongan langsung kepada Allah SWT.
Jamaah Diajak Shalat Istisqa
Sebelum khatib naik ke mimbar untuk menyampaikan khutbah Jumat, Sekretaris Masjid Tepi Air, Deswar, yang akrab disapa Pak De, terlebih dahulu menyampaikan pengumuman kepada jamaah.
Ia menginformasikan bahwa setelah pelaksanaan shalat Jumat, jamaah akan diajak bersama-sama melaksanakan shalat istisqa sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Allah SWT menurunkan hujan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Setelah khutbah Jumat dan shalat Jumat selesai dilaksanakan, Ustadz Yori Firmansyah langsung memimpin jamaah melaksanakan shalat istisqa.
Hampir seluruh jamaah yang hadir turut mengikuti shalat sunnah tersebut dengan penuh kekhusyukan.
Pelaksanaan shalat berlangsung dengan tertib. Pada rakaat pertama dilakukan tujuh kali takbir, sedangkan pada rakaat kedua lima kali takbir, kemudian rangkaian shalat dilanjutkan sebagaimana tuntunan shalat istisqa.
Suasana Masjid Tepi Air ketika itu tampak penuh kekhusyukan. Jamaah bersama-sama menundukkan diri, memohon kepada Allah SWT agar kesulitan yang sedang dirasakan masyarakat segera diberikan jalan keluar.
Nasehat Taqwa dan Doa
Usai shalat istisqa, imam kemudian naik ke mimbar untuk menyampaikan nasehat taqwa kepada jamaah.
Dalam nasehat singkat tersebut ditekankan pentingnya istiqamah di jalan Allah SWT, terutama ketika manusia sedang menghadapi berbagai ujian.
Nasehat tersebut kemudian ditutup dengan doa. Jamaah yang hadir mengikutinya dengan penuh kekhusyukan, memohon agar Allah SWT memberikan rahmat, pertolongan dan hujan yang membawa manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Malam Hari, Hujan Turun
Hal yang kemudian menjadi perhatian jamaah terjadi pada malam harinya.
Sekitar pukul 22.15 WIB, hujan turun cukup deras di kawasan Silungkang.
Hujan yang turun setelah seharian sebelumnya kondisi langit tidak menunjukkan tanda-tanda akan diguyur hujan tersebut disambut dengan rasa syukur oleh masyarakat.
Doa yang terucap dalam pelaksanaan shalat istisqa pun kembali terngiang:
“Allahumma shayyiban nafi’an” — Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat.
Bagi jamaah Masjid Tepi Air, turunnya hujan tersebut menjadi momentum untuk kembali mengingat kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.
Manusia dapat berusaha, merencanakan dan memprediksi keadaan alam. Namun pada akhirnya, Allah SWT-lah yang memiliki kuasa atas seluruh alam.
Tidak ada satu pun makhluk yang mampu menghalangi ketika Allah SWT telah menghendaki sesuatu terjadi.
Dari siang hingga sore hari, tidak terlihat tanda-tanda akan turun hujan. Namun ketika Allah SWT mengizinkan, hujan pun turun pada malam harinya.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa ikhtiar, doa dan tawakal merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.
Shalat istisqa yang dilaksanakan di Masjid Tepi Air Silungkang bukan sekadar permohonan agar hujan turun, tetapi juga menjadi momentum bagi umat untuk melakukan introspeksi, memperkuat ketakwaan dan semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Sebab ketika berbagai ikhtiar manusia menemui keterbatasan, seorang hamba tetap memiliki tempat untuk mengadu dan memohon pertolongan—Allah SWT, Dzat Yang Maha Mengatur seluruh alam.













Komentar