Oleh: Warga Amabi
Kupang, DiscoverynewsId_Dari tahun ke tahun, dari masa ke masa, masih keluhan yang sama tentang akses jalan linta Amabi
Akses jalan poros Oesao – Oemofa ini masih menjadi misteri. Bukan misteri karena tidak ada, tapi misteri karena kapan akan diperbaiki. Padahal jalan ini adalah urat nadi ekonomi bagi masyarakat di dua kecamatan: Amabi Oefeto dan Amabi Oefeto Timur.
Janji Manis, Hasilnya HOT MUMEP
Setiap kali momentum politik tiba, panggung-panggung kampanye berdiri. Dari atas panggung, para politisi dengan lantang menggaungkan janji yang sama:
“Jika saya terpilih, jalan akan kita perbaiki!”
Masyarakat kembali termakan janji manis itu. Berharap, memilih, lalu menunggu.
Nyatanya? Nihil.
Janji tetaplah janji. Hasilnya HOT MUMEP Alias Peluk Kuat. Itu kalimat sinis yang selalu dilontarkan warga ketika motor mereka terperosok, mobil pick-up mereka selip, dan tubuh mereka harus berpelukan kuat dengan kendaraan agar tidak terjatuh di jalan berlubang, berbatu, dan licin itu.
Bukan Sekadar Jalan Rusak, Ini Soal Nyawa!
Dari dua kecamatan ini, ada lebih dari 10 desa di Kecamatan Amabi Oefeto Timur dan 7 Desa di kecamatan Amabi Oefeto yang menggantungkan hidup pada jalan poros ini.
Yang paling parah adalah di Amabi Oefeto Timur. Puskesmas satu-satunya dari 10 Desa berada di Desa Oenunutono. Bayangkan.
Seorang ibu hamil yang hendak melahirkan harus ditandu, digotong, melewati jalan berlubang, berbatuan dan licin yang mengancam nyawa. Pasien asma yang butuh oksigen darurat harus bergulat dengan waktu di atas jalan yang seperti kubangan.
Sampai kapan masyarakat Amabi harus bertaruh nyawa hanya untuk sampai ke Puskesmas?
Apakah masyarakat Amabi hanya dijadikan tameng politik? Diingat saat pemilu, dilupakan setelah duduk di kursi empuk?
Selain Puskesmas, Petani Pun Susah
Jangan lupa, masyarakat di Amabi Raya rata-rata berprofesi sebagai petani dan peternak.
Hasil panen mereka adalah penunjang hidup keluarga. Tapi apa daya, naasnya harga jasa angkut hasil kebun seringkali lebih mahal dari harga jual hasil kebun itu sendiri.
Kenapa? Karena sopir harus memperbaiki mobilnya yang hancur akibat jalan rusak.
Pemerintah Daerah jangan tutup mata.
Masyarakat Amabi tidak butuh janji. Tidak butuh baliho baru. Mereka butuh kerja nyata.
Jangan biarkan orangtua dan anak-anak terus mengeluh. Jangan biarkan ibu hamil terus menangis di jalan.Jangan biarkan petani menjerit saat mengangkut hasil Panen.
Segera perbaiki Jalan Amabi Karena membangun jalan adalah membangun keadilan bagi masyarakat Amabi.
***Red










Komentar