oleh

Perempuan di Titik Nol: Potret Kekerasan dan Perjuangan Firdaus Mencari Kebebasan

Jakarta,DiscoveryNews.id – Penulis El Saadawi menulis buku berjudul Firdaus atau Women at Point Zero (perempuan di titik nol) yang diangkat dari kisah nyata. Sebagai seorang dokter psikiater, penelitiannya itu muncul sebagai hasil konsultasi dengan para wanita yang telah meminta nasihat dan bantuan dalam menangani situasi yang menjurus ke arah “tekanan batin”, baik yang berat maupun ringan di Penjara Qanatir.

Firdaus dijatuhi hukuman mati karena telah membunuh seorang laki-laki. Firdaus menolak untuk menandatangani surat permohonan yang diajukan oleh Pembantu Jaksa Agung kepada presiden supaya dengan begitu hukumannya dapat diubah menjadi hukuman kurungan badan seumur hidup. El Saadawi bertemu dengan Firdaus di penjara Qanatir, Mesir, pada tahun 1974 dan cerita perjalanan Firdaus ditulis menjadi novel yang sempat dilarang oleh pemerintah Mesir.

Discovery Photo Eksklusif

Momen Terbaik Hari Ini

Jelajahi kumpulan foto pilihan dengan cerita visual yang memukau dan penuh inspirasi di balik setiap lensanya.

Masa kecil Firdaus kurang secara ekonomi, di mana ia harus membantu sang ibu mengambil air dengan kendi tembikar yang ditaruh di atas kepala dan membantu urusan dapur. Firdaus mengalami pelecehan sejak dia masih kecil saat bersama temannya Mohammadain dan pamannya.

Ayah Firdaus, yang tidak dapat membaca ataupun menulis, memiliki sedikit pengetahuan dalam kehidupan. Bekerja sebagai petani dan penjual kerbau Ayah Firdaus di dalam keluarga yang kurang harmonis bertindak kasar kepada ibu Firdaus & kepada Firdaus. Di hal. 26, Firdaus menceritakan bahwa jika salah satu anak perempuannya mati, ayah akan menyantap makan malamnya, ibu akan membasuh kakinya, dan kemudian ia akan pergi tidur, seperti yang ia lakukan setiap malam. Namun, apabila yang mati itu seorang anak laki-laki, ia akan memukul ibu, kemudian makan malam dan merebahkan diri untuk tidur.

Saat Ayah Firdaus meninggal Pamannya memasukkan Firdaus Sekolah Dasar. Kemudian, Ibu Firdaus meninggal Pamannya membawa Firdaus ke Kairo dan melanjutkan Sekolah Asrama Menengah di Kairo. Setelah lulus Firdaus kembali ke rumah Pamannya yang sudah memiliki istri dan anak. Firdaus merasa tidak nyaman untuk tinggal di sana berlama-lama dan berharap akan segera mendapatkan pekerjaan namun istri dari pamannya menyarankan Firdaus yang belum memasuki umur 19 tahun di Jodohkan dengan Syekh Mahmoud yang berusia 65 tahun dan berharap Firdaus mendapatkan kehidupan yang layak serta mengharapkan mas kawin dua ratus Pon.

Firdaus menikah dengan Syekh Mahmoud, di sana Firdaus menjalani kehidupan rumah tangga yang tidak menyenangkan karena Syekh Mahmoud yang kasar dan memukul. Hal 63 Firdaus meninggalkan rumah lalu menuju rumah Pamannya dan menceritakan hal yang dia alami namun tanggapan pamannya mengatakan bahwa semua suami memukul istrinya, dan istrinya menambahkan bahwa suaminya pun sering memukulnya. Pamannya adalah seorang Syeikh yang terhormat, terpelajar dalam hal ajaran agama dia menjawab bahwa justru laki-laki yang memahami agama itulah yang suka memukul istri, Aturan agama mengizinkan untuk melakukan hukuman itu. Seorang istri yang bijak tidak layak mengeluh tentang suaminya. Kewajibannya ialah kepatuhan yang sempurna. Firdaus di pulangkan kembali oleh pamannya ke rumah Syekh Mahmoud dan masih sama mendapatkan perlakuan tindakan kasar.

Firdaus meninggalkan rumah Syekh Mahmoud tidak ke rumah pamannya lagi tetapi Firdaus berjalan-jalan di jalanan raya seraya dengan mata bengkak dan wajah memar. Karena lelah Firdaus duduk di depan kedai kopi yang pemiliknya bernama Bayoumi, Firdaus di berikan tempat untuk sementara tinggal di rumah Bayoumi. Selama di rumah itu Firdaus tidak bekerja yang dia lakukan seperti membersihkan rumah dan memasak, Firdaus menginginkan mendapat pekerjaan dengan ijazah nya namun selama ini Bayoumi tidak memberikan dia pekerjaan yang diminta. Bayoumi menampar Firdaus dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas mengurung Firdaus di ruang bawah tanah dan memperalatnya.

Suatu hari ada tetangga yang melihat firdaus di balik kisi-kisi pintu sambil menangis. Tetangga itu membantu Firdaus dengan memanggil tukang kayu dan memaksa membuka pintu sampai bisa terbuka. Firdaus berlari kejalanan. Karena Firdaus merasa jalanan yang memberikan rasa aman dan mencari perlindungan

Firdaus mendapatkan dirinya saat ini berada di jalan itu bersih diaspal, membentang sepanjang tepi Sungai Nil dengan Jajaran pohon tinggi di kedua sisinya. Di sana Firdaus bertemu dengan perempuan bernama Sharifa, dia membuka mata Firdaus menghadapi kehidupan, menghadapi peristiwa-peristiwa masa lalu. Firdaus memulai hal yang baru pekerjaan yang di pandang tabu menjadi pelacur dengan bayaran mahal.

Namun Firdaus masih terombang-ambing ketika temannya Di’aa mengatakan bahwa pekerjaan Firdaus tidak “terhormat”. Firdaus memutuskan untuk berhenti menjadi pelacur dan menjadi pekerja pada perusahaan selama tiga tahun, di Hal 109 Firdaus mengungkapkan “Bahwa sebagai pelacur dipandang lebih hormat, dan dihargai lebih tinggi dari pada semua karyawan perempuan, termasuk saya. Pada masa itu saya tinggal di sebuah rumah dengan kamar mandi pribadi. Saya dapat masuk kesitu setiap saat, dan mengunci diri tanpa ada orang yang menyuruh buru-buru. Tubuh saya tidak pernah terjepit di antara tubuh orang lain di dalam bis. Harganya tidak murah dan tidak bisa dibayar hanya dengan kenaikan gaji”

Firdaus mengungkapkan di Hal 110 bahwa seorang karyawati lebih takut kehilangan pekerjaannya dari pada seorang pelacur akan kehilangan nyawanya. Seorang karyawati takut kehilangan pekerjaannya dan menjadi seorang pelacur menurut kenyataannya lebih baik dari kehidupan mereka. Dan karena itulah dia membayar harga dari ketakutan yang di buat-buat itu dengan jiwanya, kesehatannya, dengan badan, dan dengan pikirannya. Dia membayar harga tertinggi bagi benda-benda yang paling bernilai rendah. Firdaus tahu sekarang kita semua adalah pelacur yang menjual diri dengan macam-macam harga, dan bahwa seorang pelacur yang mahal jauh lebih baik dari pada seorang pelacur murahan. Saya pun tahu, bahwa apabila saya kehilangan pekerjaan, apa yang hilang itu hanyalah gajih yang kecilnya menyebalkan.

Firdaus di tangkap

Hal 139 Firdaus telah membunuh seorang lelaki germo di kamarnya dan ungkapan Firdaus mengatakan “Timbul pertanyaan dalam pikiran. Apa sebabnya saya belum pernah menikam lelaki selama ini ? Saya menyadari bahwa rasa takut itu selalu ada dalam diri saya, sampai pada saat saya dapat membaca rasa takut di matanya”. Mereka mengenakan borgol baja pada pergelangan tangan Firdaus. Dalam penjara mereka memasukkan saya ke dalam sebuah kamar yang pintu dan jendelanya selalu tertutup. Hal 147 “Mereka tahu bahwa selama saya masih hidup mereka tidak akan aman, bahwa saya akan membunuh mereka. Hidup saya berarti kematian mereka. Kematian saya berarti hidup mereka. Mereka ingin hidup. Dan hidup bagi mereka berarti semakin banyak kejahatan, semakin banyak perampokan, perampasan yang tak terbatas. Saya telah menang atas keduanya, kehidupan dan kematian

Vico
Author: Vico

Komentar