Batanghari-Discoverynews.id Harapan petani di Desa Ture, Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batang Hari, untuk menyambut turunnya hujan belum juga terwujud hingga Selasa (29/9). Lahan persawahan kini mulai mengering, tanah retak dan keras, sementara sisa jerami masih menutupi sebagian areal pertanian, menjadikan persiapan musim tanam padi terhambat kekurangan pasokan air.
Para petani sebenarnya sudah memulai langkah awal pengolahan lahan, antara lain membersihkan sisa jerami pasca panen sebelumnya. Namun, kondisi tanah yang kering dan keras menjadi kendala utama yang menghambat proses pengolahan lebih lanjut.
Seluruh kegiatan kini tertunda, menunggu turunnya hujan guna mengembalikan kelembapan lahan.
Ketua Kelompok Tani Karya Bakti, A. Rahman, menyatakan ketersediaan air menjadi penentu utama kelancaran musim tanam kali ini.
“Kami berharap hujan segera turun, sehingga lahan dapat terairi dan persiapan pengolahan sawah bisa dilanjutkan. Tanpa air, kami tidak bisa melangkah lebih jauh,” ujarnya.
Kepala Desa Ture, Usman, SH, turut memantau kondisi tersebut dan menyampaikan keprihatinan atas keterlambatan datangnya curah hujan. Ia mengingatkan sebagian besar warga desa bergantung pada sektor pertanian untuk penghidupan.
“Kami tentu berharap hujan segera turun. Mudah-mudahan cuaca segera membaik, sehingga petani bisa kembali mengolah lahan dan melaksanakan musim tanam tepat waktu,” kata Usman.
Bagi para petani, air saat ini bukan sekadar kebutuhan, melainkan kunci langkah berikutnya. Lahan sudah siap disiapkan, jerami telah dibersihkan, namun satu hal yang masih ditunggu adalah turunnya hujan.
Apabila hujan belum turun dalam waktu dekat dan kondisi kekeringan terus berlanjut, jadwal musim tanam diprediksi semakin mundur. Hal ini dikhawatirkan berdampak pada siklus pertumbuhan padi serta hasil panen yang akan datang. Para petani pun berdoa agar curah hujan segera turun guna menyelamatkan musim tanam tahun ini.
















Komentar