CIANJUR, DiscoveryNews.id – Jabatan bisa di atas meja, tapi pengabdian harus di lapangan. Itulah yang dibuktikan Camat Pasirkuda, Irfan.
Di tengah hujan lemparan batu dan ledakan petasan antar suporter, ia tidak memilih mundur. Ia justru maju, berdiri gagah di tengah-tengah dua kubu massa yang sedang beringas, mempertaruhkan keselamatannya sendiri demi warganya.
Peristiwa heroik itu terjadi pada Rabu (1/10/2026) sore, saat laga Grand Final Camat Cup antara Desa Simpang vs Desa Kalibaru di Lapangan Adimukti, Desa Pusakajaya.
Turnamen Camat Cup sendiri adalah mimpi lama warga. Sejak dilantik 14 Mei 2025, Irfan blusukan ke 9 desa di Pasirkuda. Selain membenahi pelayanan, satu aspirasi yang selalu muncul: turnamen sepak bola antar desa. Setelah setahun koordinasi dengan semua kepala desa, ormas PP, SC234, Karang Taruna, KNPI, tokoh pemuda, TNI-Polri dan Forkopimcam, Camat Cup akhirnya digelar bertepatan dengan HUT ke-18 Kecamatan Pasirkuda.
Turnamen dimulai 4 September 2026 di Lapangan Desa Kalibaru hingga 8 besar, dan dilanjutkan 4 besar hingga final di Lapangan Adimukti. Rapat persiapan pun digelar berkali-kali demi memastikan kondusifitas.
Namun final yang seharusnya menjadi pesta rakyat itu memanas. Menjelang perebutan juara 1, terjadi miskomunikasi antar suporter di babak pertama yang berhasil dilerai. Di babak kedua, keributan kembali pecah. Dengan sigap, Camat dan panitia mengambil keputusan berani: menghentikan pertandingan di sisa waktu 19 menit demi mencegah korban jiwa.
Keputusan itu tepat, namun api provokasi sudah menjalar. Beredar desas-desus akan ada penyekatan jalan oleh segerombolan suporter. Mendengar itu, Camat Irfan tanpa pikir panjang langsung berkoordinasi dengan TNI-Polri dan menyusul iring-iringan suporter Desa Simpang yang hendak pulang.
Di jalan, bentrokan susulan pecah. Saling lempar batu dan petasan tak terhindarkan.
Di momen paling kritis itulah, dengan hanya didampingi satu anggota Satpol PP, Irfan menghentikan mobilnya dan berdiri di tengah-tengah dua massa yang saling serang.
Ia menjadi tameng hidup.
Upaya itu berhasil meredam amarah massa, namun ia harus membayar mahal. Sebuah lemparan batu menghantam kedua kakinya hingga tersungkur di tengah konflik. Ia mengalami luka sobek menganga di kaki kiri yang harus dijahit dan patah tulang di kaki kanan, serta luka lebam hingga tak sadarkan diri.
Beruntung aparat gabungan dari Polsek Tanggeung, Polsek Pagelaran, Kadupandak, Cibinong, Cidaun, Sindangbarang, Koramil Pagelaran, Cibinong dan Sindangbarang tiba dan segera melerai konflik. Camat kemudian dilarikan ke Puskesmas Pasirkuda.
Kapolsek setempat menyebut tidak ada korban parah dari warga, hanya luka memar. Korban terparah justru sang Camat sendiri yang menjadi tameng warganya.
Pihak provokator kini telah diamankan dan akan diproses oleh aparat penegak hukum. Malam harinya, apel gabungan dan patroli skala besar digelar di depan Kantor Kecamatan Pasirkuda untuk memastikan situasi kembali kondusif.
Alhamdulillah, berkat kesigapan Camat dan aparat gabungan, kondisi Pasirkuda kini kembali aman dan terkendali.
Apa yang dilakukan Irfan adalah bukti nyata bahwa pemimpin hadir bukan saat keadaan aman saja, tetapi justru di saat nyawa menjadi taruhannya.










Komentar