KALBAR SANGGAU, Discoverynews.id ~ Rencana kehadiran pendakwah kondang Ustaz Abdul Somad (UAS) di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, yang sedianya dijadwalkan pada Sabtu lalu, mendadak batal dan langsung memicu gelombang tanda tanya di tengah masyarakat.
Ruang-ruang publik digital maupun obrolan warga seketika diwarnai spekulasi liar mengenai penyebab batalnya agenda keagamaan tersebut.
Menanggapi situasi yang mulai memanas dan berpotensi menimbulkan distorsi informasi, Bupati Sanggau Yohanes Ontot akhirnya angkat bicara untuk meluruskan duduk perkara agar tidak berujung pada kesalahpahaman massal yang merugikan kondusivitas daerah.
Dalam keterangannya, Bupati Ontot menegaskan bahwa keputusan pembatalan tersebut murni disampaikan oleh pihak panitia penyelenggara lokal dengan mempertimbangkan berbagai dinamika di lapangan.
Ia tidak ingin masyarakat, khususnya umat Islam di Sanggau, terjebak dalam narasi keliru yang mengarah pada tudingan bahwa pemerintah daerah turut campur atau sengaja menghalang-halangi kegiatan dakwah tersebut.
Menurutnya, transparansi informasi sangat krusial agar eskalasi emosi warga dapat segera diredam sejak dini demi menjaga kerukunan antarumat beragama yang selama ini telah terjalin dengan sangat baik di bumi Daranante.
Lebih jauh, kepala daerah menegaskan bahwa mekanisme perizinan untuk setiap kegiatan keramaian, termasuk agenda keagamaan berskala besar yang mendatangkan tokoh nasional, sama sekali bukan berada di bawah kewenangan bupati atau jajaran pemerintah kabupaten.
Seluruh prosedur perizinan dan rekomendasi pengamanan merupakan ranah mutlak institusi kepolisian yang bekerja berdasarkan standar operasional prosedur keamanan serta asesmen situasi di wilayah hukum setempat.
Penjelasan ini sengaja disampaikan secara terbuka agar publik dapat membedakan secara tegas antara kebijakan administratif penegak hukum dan kebijakan birokrasi pemerintahan daerah.
Bupati Ontot juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh akun-akun media sosial atau pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang mencoba memanfaatkan situasi ini untuk memecah belah keharmonisan sosial.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat Sanggau untuk tetap tenang, berpikir jernih, serta mempercayakan penanganan masalah administratif kepada mekanisme yang berlaku tanpa harus saling menyalahkan.
Baginya, stabilitas keamanan dan kedamaian daerah jauh lebih penting untuk dijaga bersama di tengah keberagaman suku dan agama yang menjadi identitas kebanggaan masyarakat Sanggau.
Keputusan panitia untuk membatalkan acara ini sejatinya diambil setelah melalui pertimbangan matang yang melibatkan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait demi kebaikan bersama.
Pemerintah Kabupaten Sanggau, lanjut Ontot, senantiasa menghormati setiap kegiatan keagamaan yang diselenggarakan oleh masyarakat selama seluruh ketentuan perundang-undangan dan prosedur keamanan terpenuhi dengan baik.
Oleh karena itu, ia berharap masyarakat dapat menerima penjelasan ini secara utuh dan tidak lagi mengembangkan spekulasi yang dapat mencederai semangat toleransi yang senantiasa dijunjung tinggi di Kabupaten Sanggau.
Peristiwa ini sekaligus menjadi refleksi penting bagi semua pihak mengenai perlunya komunikasi yang lebih terbuka dan koordinasi yang matang antara panitia penyelenggara, aparat penegak hukum, dan pemerintah daerah dalam setiap perencanaan agenda publik.
Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mendukung ruang-ruang dialog keagamaan yang konstruktif asalkan berjalan seiring dengan koridor hukum dan ketertiban umum yang berlaku.
Dengan adanya klarifikasi resmi dari bupati ini, diharapkan seluruh lapisan masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan tenang dan senantiasa merawat persaudaraan lintas golongan di Kabupaten Sanggau.
(Tim/Red)










Komentar