Jakarta, Discoverynews.id-Pameran seni rupa kontemporer internasional bertajuk Jakarta Biennale 2026 ini, mengusung tema kuratorial “Kebal”
Acara tersebut berlangsung di komplek Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Gedung Trisno Soemardjo, Jakarta Pusat, berlangsung pada 4 hingga 28 Oktober.
Terdapat puluhan karya seni rupa dari 20 seniman lokal maupun internasional, dipamerkan.
Acara ini terselenggara melalui hasil kolaborasi Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (UP PKJ TIM), 16 kolektif seni yang tergabung dalam Majelis Jakarta, serta Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta.
Direktur Program dan Perwakilan Majelis Jakarta, Ayu Maulani mengatakan ada 20 seniman yang berpartisipasi dan pameran berlangsung pararel enam wilayah Jakarta.
“Untuk di Taman Ismail Marzuki, kita ada 20 seniman yang berpameran, tapi pameran aktivasi Jakarta Biennale ini tidak hanya di Taman Ismail Marzuki. Kita akan berlangsung sampai tanggal 24 November dan itu paralel dilaksanakan di berbagai ruang kolektif di seluruh Jakarta, sampai ke Kepulauan Seribu” ucapnya saat ditemui Discovery news pada 4 Oktober 2026.
Ayu juga mengatakan makna kebal yang menggambarkan resilensi dari masyarakat kota dalam mengahdapi hidup di Jakarta.
“Jakarta Biennale 2026 itu mengangkat tema ‘Kebal’. Kebal itu terinspirasi dari resiliensi warga, resistensi warga Jakarta, maksudnya resiliensi ini adalah bagaimana kebijakan-kebijakan itu kadangkala itu tidak menguntungkan warga yang hidup di kota urban, gitu. Maksudnya di Jakarta sendiri kan persoalannya udah berlapis, lalu kita membaca warga itu bisa membuat dirinya sendiri kebal dalam artian bukan mati rasa, tapi justru akhirnya warga bersiasat untuk tetap bertahan hidup” ujarnya.
Selain pameran seni rupa Jakarta Biennale menghadirkan beberapa pemutaran film yang berada di ruang publik.
“Bagian dari Jakarta Biennale, nantinya akan diselenggarakan di Jak Cinema Pasar Rumput. Jadi kan ada rumah susun Pasar Rumput ada bioskop warga, nah kita akan aktivasi ruang bioskop tersebut” tutur Ayu
Ditempat yang sama salah satu exhibitor dari pameran ini adalah Athonk Sapto Raharjo, ia menampilkan karya seni, tatto hingga komik.
Ia mengartikan tema kebal dalam seni tatto yang memberikan kekebalan melalui gambar yang dihasilkan.
“Kebetulan ini kan tema besarnya kan Kebal, Jakarta Biennale Kebal. Nah, di sini karena saya kebetulan tukang tato, jadi saya menawarkan gambar-gambar yang bisa memberi kekebalan buat diri kita. Kayak mantra atau rajah lewat tato”ujarnya saat ditemui Discovery news.
Selain tatto ia juga menampilkan beberapa karya seperti komik
“Iya, ini selain tato kan saya juga tukang tato, selain tukang tato saya bikin komik” ujarnya
Athonk juga menambahkan menjadi seniman harus terbuka terhadap semua cabang seni untuk dapat bertahan.
“Kalau buat saya ini lebih, kita sebagai seniman itu sebenarnya harus bisa terbuka untuk dalam semua cabang seni. Jadi kita jangan sampai terpaku kalau cuma jadi pelukis ya ngelukis aja, jadi pematung matung aja, tapi kalau sebagai seniman ya harus bisa apa aja karena buat survive itu penting” tuturnya.
Selain itu asisten pameran dari Athonk, Bronzelani memberikan apresiasinya terhadap karya tersebut.
“sosok mas Athonk relevan dengan konsep kebal (tak lekang oleh zaman) karena ia selalu terbuka, bergaul dengan kalangan muda tanpa memandang usia, dan pemikirannya senantiasa berada di depan”
Sebelumnya Jakarta Biennale merupakan pameran seni kontemporer yang diadakan dua kali setahun di Jakarta, ibu kota Indonesia. Pameran ini menyajikan berbagai kegiatan budaya yang dapat dinikmati oleh warga Jakarta sebagai cara untuk memahami “kota”, sebuah wilayah yang dinamis dan terus berubah.
Jakarta, sebagai salah satu kota terbesar di Asia Tenggara, sangat dinamis dan menjadi cermin sosial, politik, ekonomi, dan budaya Indonesia kontemporer.
Pada awalnya, Jakarta Biennale diadakan pada tahun 1968 dengan nama Pameran Besar Seni Lukis Indonesia di Jakarta Arts Center, Taman Ismail Marzuki. Seiring dengan perkembangan dan perubahan besar di bidang seni visual maupun masyarakat, pameran ini berevolusi dengan melibatkan lebih banyak kegiatan budaya bersama dengan masyarakat luas.
Jakarta Biennale membuka potensi kreatif untuk merevitalisasi ruang publik di kota melalui karya kolaboratif antara seniman, pekerja kreatif, dan warga lokal.















Komentar