CIANJUR, DiscoveryNews.id _Potret buram kemiskinan masih terlihat nyata di Cianjur Selatan. Hampir enam tahun, pasangan suami istri Supian (52) dan Hena (32) harus bertahan hidup di sebuah gubuk reyot yang jauh dari kata layak huni di Kampung Kiaramenyan, Desa Sirnagalih, Kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur.
Atap bocor, dinding bilik lapuk, dan lantai tanah menjadi saksi bisu penantian panjang pasutri tersebut akan janji bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).
“Kami sudah hampir enam tahun bertahan di rumah sederhana ini, meski kondisinya sangat memprihatinkan. Kalau hujan bocor di mana-mana,” ujar Supian dengan nada lirih saat ditemui, Kamis (9/10/2026).
Keterbatasan ekonomi menjadi alasan utama ia tak mampu memperbaiki rumahnya secara mandiri. Supian yang hanya bekerja serabutan mengaku penghasilannya hanya cukup untuk makan sehari-hari bersama istri.
Bagi Supian, rumah layak bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar untuk rasa aman.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah, baik Pemkab Cianjur maupun Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Mudah-mudahan saya bisa mendapatkan bantuan untuk memperbaiki rumah. Saya hanya ingin tempat tinggal yang aman,” harap Supian penuh harap.
Penantian panjang itu kini menjadi satu-satunya impian yang ia gantungkan kepada pemerintah.
“Saya berharap pemerintah dapat melihat langsung kondisi kami. Jangan sampai impian kami memiliki rumah yang lebih layak kembali menjadi penantian panjang yang tak berujung,” jelasnya.
Desa Sudah Ajukan, Tapi Mentok di Atas?
Terpisah, Kepala Desa Sirnagalih Sugiono melalui Sekretaris Desa Rahmat Taufik membenarkan kondisi warganya tersebut. Pihaknya mengaku telah berulang kali mengajukan bantuan untuk Supian melalui program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau Rutilahu.
“Kami di desa sudah berupaya mengajukan bantuan untuk perbaikan rumah pasangan Supian-Hena melalui BSPS atau Rutilahu. Data sudah kami kirim,” kata Rahmat Taufik.
Namun ia berharap pengajuan tersebut tidak hanya berhenti di atas kertas.
“Saya berharap pengajuan Rutilahu tidak berhenti sebatas pendataan atau administrasi saja. Harus ada tindak lanjut nyata agar warga kami yang benar-benar membutuhkan bisa segera mendapatkan tempat tinggal yang lebih aman dan layak,” pungkasnya.
Kini, publik menanti. Apakah jeritan Supian-Hena dari ujung selatan Cianjur ini akan terdengar sampai ke Pendopo Pemkab Cianjur dan Gedung Sate Bandung? Ataukah mereka harus kembali menunggu 6 tahun lagi di gubuk yang sama?










Komentar