PONTIANAK,Discoverynews.id ~ Suasana di kawasan strategis Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kelurahan Bansir Darat, Kecamatan Pontianak Tenggara mendadak memanas dan menyedot perhatian publik pada Jumat sore, 9 Oktober 2026.
Ratusan massa yang tergabung dalam Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kota Pontianak menggelar aksi demonstrasi besar-besaran tepat di depan Kantor Gubernur Kalimantan Barat.
Kedatangan rombongan mahasiswa ini langsung menyita perhatian ribuan pengguna jalan serta masyarakat sekitar yang terkejut melihat riuhnya gelombang seruan keadilan yang berkumandang di pusat ibu kota provinsi tersebut.
Aksi unjuk rasa yang berlangsung dramatis ini dipicu oleh kekecewaan mendalam para mahasiswa terhadap respons pemerintah daerah dalam menangani bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang tak kunjung usai.
Bencana tahunan ini dinilai telah melukai hak-hak mendasar masyarakat Kalimantan Barat, mulai dari krisis udara bersih hingga ancaman kesehatan yang terus menghantui.
Dengan membawa berbagai atribut propaganda serta orasi yang membakar semangat, barisan kader PC IMM Kota Pontianak secara tegas menuntut adanya sikap dan langkah konkret dari jajaran pejabat eksekutif untuk mengambil tindakan nyata di lapangan.
Dalam tuntutan utamanya, massa aksi mendesak jajaran penegak hukum dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat untuk tidak tebang pilih serta berani mengambil tindakan hukum super tegas terhadap para pelaku maupun korporasi yang terlibat dalam pembakaran lahan.
Tidak hanya berhenti di situ, mahasiswa juga mencecar pemerintah daerah terkait transparansi alokasi anggaran penanganan bencana yang dinilai masih belum jelas ke mana muaranya, padahal dampak kepulan asap pekat kerap mengisolasi kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat setempat.
Di tengah memanasnya orasi dan riuh tuntutan hukum, publik makin dikagetkan oleh pengakuan mengejutkan yang disampaikan langsung oleh para pimpinan aksi dari atas mobil komando.
Jajaran pengurus PC IMM Kota Pontianak mengungkap adanya dugaan aksi ancaman dan intimidasi misterius yang dilayangkan oleh pihak-pihak tak dikenal kepada beberapa pengurus jelang demonstrasi digelar.
Pengakuan tegang ini serontak membakar amarah massa aksi yang mengecam keras segala bentuk pembungkaman suara kritis mahasiswa di tanah Kalimantan Barat.
Meskipun diwarnai tensi tinggi dan di bawah pengawalan ketat aparat keamanan, aksi unjuk rasa ini berakhir sebagai pengingat keras bagi para pemangku kebijakan di Kalimantan Barat.
Keberanian mahasiswa IMM Kota Pontianak yang menembus benteng intimidasi demi menyuarakan jeritan rakyat korban Karhutla kini menjadi pembicaraan hangat di seluruh pelosok kota.
Masyarakat kini menanti keberanian Gubernur beserta jajarannya untuk segera menjawab seluruh tuntutan tersebut secara terbuka demi menyelamatkan masa depan lingkungan dan kesehatan warga Kalimantan Barat.
(Tim/Red)










Komentar