KALBAR SUKADANA,Discoverynews.id ~ Kematian seorang anak berinisial berusia enam tahun di Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, menyulut duka sekaligus keresahan mendalam di tengah kepungan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Peristiwa memilukan tersebut terjadi pada Rabu (14/10/2026), ketika kondisi kualitas udara di wilayah Kayong Utara kembali memburuk parah akibat gumpalan asap beracun yang tak kunjung mereda.
Korban mengembuskan napas terakhirnya di fasilitas pelayanan kesehatan setempat setelah mengalami gangguan pernapasan hebat yang mengarah pada Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) serta infeksi paru-paru.
Kronologi tragedi ini bermula saat paparan asap pekat dampak karhutla kian menebal membalut pemukiman warga di Sukadana dan sekitarnya.
Dalam beberapa hari terakhir, korban mulai menunjukkan gejala gangguan pernapasan yang terus memburuk secara signifikan akibat menghirup udara beracun saban hari.
Pihak keluarga kemudian bergegas membawa bocah malang tersebut ke fasilitas kesehatan rumah sakit setempat untuk mendapatkan penanganan medis darurat, namun nyawa sang anak tidak dapat diselamatkan setelah berjuang melawan serangan infeksi pada saluran pernapasan.
Peristiwa naas ini dikonfirmasi langsung oleh kerabat dekat sekaligus paman korban, Miftahus, yang menyaksikan langsung detik-detik perjuangan keponakannya di rumah sakit.
Mewakili pihak keluarga, Miftahus meluapkan rasa duka serta kekecewaan mendalam atas lambatnya penanganan bencana asap yang kini telah merenggut nyawa anggota keluarganya yang masih sangat muda.
Keterangan dari Miftahus menjadi narasumber utama yang membuka mata publik mengenai betapa kritisnya dampak langsung paparan kabut asap terhadap keselamatan jiwa warga.
Nunggu korban berapa orang lagi, baru kau bilang ini bencana nasional. Asap kabutnya makin parah. Ini ponakan aku meninggal hari ini gara-gara infeksi paru-paru.
Ayolah pemerintah, gimana nih cara ngatasin ini. Minimal ada vitamin lah untuk masyarakat,” tegas Miftahus dengan nada emosional pada Rabu (14/10/2026), sebagaimana dihimpun dari laporan media.
Pernyataan lugas paman korban tersebut mempertegas desakan agar pemerintah tidak hanya fokus pada pemadaman titik api, tetapi juga memberikan perlindungan kesehatan nyata bagi masyarakat terdampak.
Selain mendesak penetapan langkah darurat, narasumber dan masyarakat berharap pemerintah segera mendistribusikan dukungan medis konkret di lapangan.
Langkah medis yang dinantikan warga meliputi bantuan asupan gizi serta vitamin pemulih imunitas, masker standar penyaring partikel asap, layanan pemeriksaan medis gratis, hingga penyediaan ruang evakuasi steril berpendingin udara demi menekan angka kesakitan akibat kabut asap.
Meskipun otoritas medis masih memerlukan pengujian klinis lanjutan untuk mengonfirmasi hubungan langsung secara pasti antara korelasi asap karhutla dan penyebab kematian korban.
Tragedi di Sukadana ini menjadi peringatan keras. Penanganan karhutla di Kalimantan Barat kini dituntut bergerak lebih cepat dan komprehensif.
Mengingat keselamatan nyawa anak-anak dan kelompok rentan menjadi taruhan nyata di tengah bencana asap yang belum bersurut. (R)









