oleh

Demo Mahasiswa Albania Ricuh, Gedung Kementerian dan Bank Dibakar

 Albania discoverynews.id – Demonstrasi mahasiswa di Tirana, ibu kota Albania, berujung ricuh pada Rabu (14/10/2026). Massa membakar gedung Kementerian Pendidikan dan dua cabang bank, merusak sejumlah fasilitas usaha, serta terlibat bentrokan dengan aparat kepolisian. Kerusuhan ini menjadi salah satu eskalasi paling serius dalam gelombang protes terhadap pemerintahan Perdana Menteri Edi Rama.

Reuters melaporkan, ribuan hingga puluhan ribu demonstran turun ke jalan untuk menyuarakan persoalan biaya pendidikan, kondisi universitas, minimnya dukungan bagi mahasiswa, serta dugaan korupsi di lingkungan pemerintahan. Massa melemparkan batu ke arah polisi, merusak bagian depan sejumlah tempat usaha, dan membakar fasilitas di sekitar lokasi demonstrasi. Salah satu cabang Raiffeisen Bank yang berada dekat Kementerian Pendidikan juga dilaporkan terbakar.

Aparat kepolisian merespons kericuhan dengan menembakkan gas air mata dan menggunakan meriam air untuk membubarkan massa. Sejumlah demonstran juga dilaporkan ditangkap setelah bentrokan terjadi. Menurut laporan Al Jazeera yang mengutip kepolisian, sedikitnya 16 orang ditangkap setelah kerusuhan pada malam sebelumnya.

Aksi mahasiswa tersebut tidak terlepas dari gelombang demonstrasi antipemerintah yang telah berlangsung selama beberapa bulan. Selain menuntut perbaikan sistem pendidikan dan biaya kuliah yang lebih terjangkau, para demonstran mempersoalkan dugaan korupsi serta proyek pembangunan resor mewah di kawasan pesisir selatan Albania yang dikaitkan dengan Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Proyek tersebut memicu kritik terkait transparansi pengambilan keputusan pemerintah dan dugaan kepentingan elite. Isu itu kemudian berkembang menjadi tuntutan yang lebih luas, termasuk desakan agar Edi Rama mengundurkan diri dari jabatannya.

Di tengah situasi tersebut, pemerintah Albania mengecam tindakan kekerasan dan perusakan fasilitas publik. Wakil Perdana Menteri Albana Koçiu menegaskan bahwa hak menyampaikan pendapat tidak dapat dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan maupun menghancurkan fasilitas kota. Kepolisian juga memperingatkan bahwa pelaku pembakaran, perusakan, dan penyerangan terhadap petugas akan dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum.

Baca Juga  Peringati Satu Abad NU, Bupati Garut Dorong Penguatan Ekonomi Umat Melalui Akses Modal

Perdana Menteri Edi Rama juga menolak tuntutan pengunduran dirinya. Dalam pernyataan yang dilaporkan Reuters dan Al Jazeera, Rama menyatakan pemerintahannya bersedia mendengarkan persoalan yang menjadi perhatian mahasiswa, termasuk kenaikan biaya pendidikan, tetapi menegaskan tidak akan mundur dari jabatannya.

Rama menyebut perubahan harus ditempuh melalui proses demokrasi dan menilai kekerasan tidak boleh menggagalkan arah Albania menuju keanggotaan Uni Eropa. Pemerintahannya sendiri membantah tuduhan korupsi yang diarahkan kepada pejabat negara.

Kerusuhan berlanjut pada Kamis (15/10/2026), ketika demonstrasi kembali berlangsung di Tirana dan meluas ke sejumlah kota lain. Associated Press melaporkan adanya kerusakan pada gedung pemerintah, bank, dan tempat usaha. Sementara itu, laporan Reuters pada Jumat (16/10/2026) menyebut ribuan anak muda kembali turun ke jalan, merusak sejumlah fasilitas, dan mendesak Rama mundur.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa aksi yang berawal dari persoalan pendidikan telah berkembang menjadi gerakan antipemerintah yang lebih luas. Di tengah tuntutan reformasi dan pemberantasan korupsi, pemerintah Albania menghadapi tantangan untuk meredakan ketegangan sekaligus memastikan demonstrasi berlangsung tanpa kekerasan dan perusakan fasilitas publik.

Sumber: Reuters, Associated Press, Al Jazeera, dan The Guardian.

RADIT ADM
Author: RADIT ADM