oleh

Demo Pelajar Prancis Meluas, Ribuan Remaja Ditahan dan Puluhan Terluka

Prancis discoverynews.id – Gelombang demonstrasi pelajar yang melanda Prancis memasuki pekan keempat pada Jumat (16/10/2026). Aksi yang menuntut perbaikan fasilitas sekolah dan pemenuhan kebutuhan tenaga pengajar itu berkembang menjadi kerusuhan nasional, diwarnai bentrokan dengan polisi, penangkapan massal, serta sejumlah remaja yang mengalami luka serius.

Associated Press (AP) melaporkan, sekitar 8.000 orang telah ditangkap dalam rangkaian demonstrasi beberapa pekan terakhir. Sebagian besar merupakan remaja berusia di bawah 18 tahun. Pemerintah juga mencatat lebih dari 900 personel kepolisian dan lebih dari 150 tenaga sekolah mengalami cedera selama kerusuhan berlangsung.

Aksi protes bermula dari ketidakpuasan pelajar terhadap kondisi sekolah yang dinilai memprihatinkan, kekurangan guru, serta tidak adanya pengganti ketika tenaga pengajar berhalangan hadir. Para demonstran juga menuntut perbaikan gedung sekolah yang rusak dan peningkatan kualitas fasilitas pendidikan, terutama di kawasan pinggiran Paris dan wilayah yang mengalami keterbatasan sumber daya.

Demonstrasi kemudian menyebar ke berbagai kota, termasuk Paris, Marseille, Lyon, Nantes, dan Bordeaux. Pada salah satu hari aksi terbesar, lebih dari 250.000 pelajar, guru, dan orang tua dilaporkan turun ke jalan menurut data yang dikutip The Guardian. Sejumlah aksi berlangsung damai, tetapi beberapa lokasi berubah menjadi arena bentrokan setelah terjadi pelemparan benda, pembakaran tempat sampah, dan perusakan fasilitas umum.

Situasi semakin memanas setelah sejumlah remaja mengalami cedera berat ketika aparat menggunakan senjata pengendali massa. Seorang pelajar berusia 15 tahun di Lens kehilangan tangan dalam insiden yang melibatkan granat polisi. Sementara itu, seorang remaja berusia 14 tahun di Saint-Ouen-l’Aumône mengalami patah rahang dan kerusakan gigi serius setelah terkena proyektil gas air mata yang ditembakkan dari peluncur polisi.

Kasus lainnya melibatkan remaja berusia 16 tahun yang dilaporkan kehilangan penglihatan pada salah satu matanya setelah terkena proyektil pengendali massa. Insiden-insiden tersebut memicu kritik dari pengacara, organisasi hak asasi manusia, dan sejumlah pihak yang mempertanyakan proporsionalitas penggunaan kekuatan aparat terhadap demonstran muda.

Baca Juga  Dugaan Pelaku Mengaku Intel Polisi Jadi Sorotan, Tim Hukum Kawal Kasus Pelajar SMA di Semarang

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez menyatakan penggunaan granat kejut dalam penanganan demonstrasi pelajar dihentikan sementara setelah insiden yang menyebabkan seorang remaja kehilangan tangan. Kepolisian juga membuka penyelidikan internal terhadap 36 laporan dugaan penggunaan kekuatan berlebihan oleh petugas.

Di sisi lain, aparat menyatakan mereka menghadapi kelompok demonstran yang melakukan kekerasan, termasuk melempar batu, petasan, dan benda lainnya ke arah polisi. Sejumlah sekolah dan fasilitas umum dilaporkan mengalami kerusakan. Pemerintah menegaskan bahwa tindakan kekerasan dan perusakan tidak dapat dibenarkan, meskipun demonstrasi merupakan bagian dari hak masyarakat untuk menyampaikan aspirasi.

Persoalan penangkapan anak di bawah umur turut menjadi sorotan. Menurut The Guardian, lebih dari 6.700 anak telah dibawa ke tahanan sejak pertengahan September. Sejumlah pengacara dan kelompok pembela hak asasi manusia menyampaikan dugaan pemukulan, penghinaan bernuansa rasial, serta pelanggaran lain selama proses penangkapan dan penahanan. Tuduhan tersebut masih perlu ditangani melalui penyelidikan dan proses hukum yang semestinya.

Gelombang demonstrasi ini menempatkan pemerintahan Presiden Emmanuel Macron di bawah tekanan menjelang akhir masa jabatannya. Selain menghadapi tuntutan perbaikan pendidikan, pemerintah juga harus menjawab kritik mengenai cara aparat mengendalikan massa dan melindungi hak-hak anak.

Perkembangan di Prancis memperlihatkan bahwa persoalan pendidikan dapat berkembang menjadi krisis kepercayaan ketika tuntutan masyarakat tidak memperoleh penyelesaian yang dianggap memadai. Pemerintah kini menghadapi dua tantangan sekaligus, yakni memperbaiki kondisi sekolah dan memastikan penanganan demonstrasi berlangsung secara proporsional tanpa mengabaikan keselamatan pelajar maupun petugas.

Sumber: Associated Press, The Guardian, dan Reuters.

RADIT ADM
Author: RADIT ADM