oleh

Pemuda Kritis Hari Ini: Membaca Kiri, Memegang Teguh Akidah

Ada fenomena menarik dalam cara berpikir sebagian pemuda Indonesia hari ini. Mereka yang haus pengetahuan dan kritis terhadap keadaan sosial sering kali tertarik membaca Tan Malaka, Karl Marx, Lenin, Marxisme, sosialisme, hingga pemikiran anarkisme. Bukan semata-mata karena ingin menjadi komunis atau menentang agama, melainkan karena mereka menemukan pertanyaan-pertanyaan yang tajam tentang ketidakadilan, kapitalisme, kekuasaan, dan hubungan antara kepentingan rakyat dengan kepentingan elite. Mereka tidak puas dengan jawaban yang hanya berisi slogan moral, janji kesejahteraan, atau seruan perubahan tanpa penjelasan tentang bagaimana ketidakadilan itu bekerja.

Daya tarik pemikiran kiri bagi sebagian pemuda terletak pada keberaniannya membedah persoalan sampai ke akarnya. Mereka tidak hanya bertanya mengapa rakyat miskin, tetapi juga siapa yang menguasai sumber daya dan mengapa kemiskinan terus berulang. Mereka tidak hanya bertanya mengapa pendidikan mahal, tetapi juga bagaimana kepentingan ekonomi dapat memengaruhi hak masyarakat untuk memperoleh pendidikan. Mereka tidak hanya mendengar pidato tentang keadilan, tetapi mempertanyakan siapa yang benar-benar menikmati hasil pembangunan. Mereka ingin memahami struktur di balik persoalan, bukan sekadar mendengar nasihat untuk menerima keadaan.

Di sinilah keunikan cara berpikir pemuda hari ini: mereka dapat membaca gagasan kiri dengan serius, tetapi tetap memegang teguh agama dan akidahnya. Mereka bisa mempelajari Marx untuk memahami konflik kelas tanpa harus menerima ateisme, membaca Tan Malaka untuk memahami sejarah perjuangan tanpa harus menjadi pengikut seluruh pemikirannya, serta mendiskusikan sosialisme tanpa otomatis mengidentifikasikan diri sebagai komunis. Mereka membedakan kegiatan membaca, memahami, menyetujui, dan mengadopsi sebuah ideologi. Bagi mereka, buku adalah ruang untuk menguji pikiran, bukan perintah untuk menyerahkan seluruh keyakinan.

Fenomena ini juga memperlihatkan persoalan kepercayaan. Sebagian pemuda mungkin lebih tertarik pada pemikiran kiri karena kecewa terhadap tokoh-tokoh yang berbicara tentang moralitas, agama, atau kepentingan rakyat, tetapi dalam praktiknya dinilai tidak konsisten dengan ucapan mereka. Ketika simbol agama digunakan dalam politik, tetapi persoalan ketimpangan tidak terselesaikan, mereka mulai mencari kerangka pemikiran lain untuk menjelaskan kenyataan. Namun, kekecewaan terhadap tokoh agama tidak sama dengan kehilangan iman kepada Tuhan. Yang mereka persoalkan bisa jadi bukan agamanya, melainkan perilaku manusia yang membawa nama agama.

Baca Juga  Kakanwil Jabar: Guru Tak Perlu Takut Tegakkan Disiplin, Asal Sesuai Aturan

Tentu, tidak semua pemikiran kiri sejalan dengan akidah Islam. Ada perbedaan nyata dalam pandangan tentang ketuhanan, kepemilikan, negara, dan perubahan sosial. Pemuda yang kritis tidak perlu menutupi perbedaan tersebut. Justru, mereka harus mampu membaca secara utuh, membandingkan secara jernih, dan mengambil sikap berdasarkan pengetahuan, keyakinan, serta pertimbangan moralnya sendiri.

Keunikan pemuda Indonesia bukan sekadar mereka membaca pemikiran kiri, melainkan kemungkinan bahwa mereka sedang membangun cara berpikir yang tidak mudah dimasukkan ke dalam satu kotak ideologi. Mereka bisa mempertanyakan kapitalisme tanpa membenci seluruh pemilik usaha, mengkritik elite tanpa menolak semua bentuk kepemimpinan, memperjuangkan keadilan sosial tanpa kehilangan keyakinan kepada Tuhan, dan mempelajari pemikiran radikal tanpa harus menerima seluruh kesimpulannya.

Mereka tidak selalu ingin memilih antara menjadi religius atau menjadi kritis. Mereka ingin tetap beriman, tetapi tidak berhenti bertanya; tetap memiliki akidah, tetapi tidak menutup diri terhadap pengetahuan; tetap menghormati tokoh, tetapi tidak menganggap tokoh selalu benar. Dalam pikiran mereka, keyakinan dan daya kritis tidak harus saling meniadakan.

Maka, keliru jika setiap pemuda yang membaca Marx langsung dicap komunis, atau setiap orang yang mengkaji Tan Malaka dianggap antiagama. Membaca bukan berarti menganut, memahami bukan berarti menyetujui, dan mempertanyakan ketidakadilan bukan berarti menolak Tuhan. Justru, kedewasaan intelektual diuji ketika seseorang berani memasuki berbagai pemikiran tanpa kehilangan kemampuan untuk menilai batas, kelemahan, dan kebenarannya.

Barangkali pertanyaan yang lebih penting bukan mengapa pemuda hari ini membaca pemikiran kiri, melainkan mengapa sebagian dari mereka merasa gagasan-gagasan tersebut memberikan penjelasan yang lebih tajam tentang ketidakadilan yang mereka saksikan. Jika generasi muda terus mencari jawaban di luar narasi yang selama ini mendominasi ruang publik, itu seharusnya menjadi dorongan bagi semua pihak untuk memperbaiki kualitas pemikiran, keteladanan, dan keberanian membicarakan persoalan rakyat secara jujur.

Sebab, pemuda yang berpikir tidak selalu ingin menjadi pengikut. Terkadang, mereka hanya ingin mengerti dunia tanpa harus berhenti percaya kepada Tuhan, dan ingin memperjuangkan keadilan tanpa harus menyerahkan akal sehatnya kepada ideologi mana pun.

jihad
Author: jihad