oleh

Kemenag Kabupaten Tasikmalaya Gelar Seminar Edukasi Santri 2026, Perkuat Pesantren Aman dan Ramah Anak

TASIKMALAYA,Discoverynews.id – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Tasikmalaya melalui Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) menggelar Seminar Edukasi Santri bertajuk “Santri Maju, Santri Mampu” dengan tema “Bahaya Bullying dan LGBT”. Kegiatan tersebut diikuti 200 santri perwakilan pondok pesantren se-Kabupaten Tasikmalaya dan berlangsung di Aula Pendopo Baru Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (17/10/2026).

Kegiatan yang menjadi bagian dari program Pesantren Connect 2026 sekaligus rangkaian peringatan HSN tersebut dihadiri Bupati Tasikmalaya, Dr. KH. Cecep Nurul Yakin, S.Pd., M.A.P., serta para pimpinan pondok pesantren, akademisi, praktisi pendidikan, dan tamu undangan lainnya.

Seminar ini menjadi salah satu upaya memperkuat perlindungan santri, meningkatkan kesadaran terhadap bahaya perundungan dan kekerasan, serta mendorong terciptanya lingkungan pesantren yang aman, nyaman, ramah anak, dan mendukung pengembangan potensi generasi muda.

 

Kepala Kemenag: Jangan Sampai Santri Datang Membawa Harapan, Pulang Membawa Trauma

Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tasikmalaya, H. Asep Lukman Hakim, S.Ag., M.Si., menegaskan bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam membangun masa depan Kabupaten Tasikmalaya.

Ia menyebutkan, berdasarkan data Kementerian Agama, Kabupaten Tasikmalaya memiliki 1.448 pondok pesantren dengan jumlah 48.956 santri. Besarnya potensi tersebut harus diimbangi dengan komitmen bersama untuk memastikan setiap santri memperoleh pendidikan berkualitas sekaligus terlindungi dari berbagai bentuk kekerasan.

“Kita tidak ingin ada santri yang datang ke pesantren membawa harapan, tetapi pulang membawa trauma. Pesantren harus menjadi rumah kedua bagi santri, tempat mereka merasa aman, dihargai, didengarkan, dibimbing, dan dicintai,” tegasnya.

Menurut Asep Lukman, perundungan, kekerasan fisik, kekerasan seksual, tekanan psikologis, hingga penyalahgunaan media sosial merupakan tantangan yang harus mendapat perhatian serius dari seluruh pihak.

Ia menekankan bahwa kedisiplinan dalam pendidikan pesantren tetap harus ditegakkan, tetapi tidak boleh dilakukan melalui kekerasan maupun tindakan yang merendahkan martabat santri.

“Kedisiplinan harus tetap ditegakkan, tetapi tanpa kekerasan. Penghormatan kepada guru harus tetap dijaga, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk membenarkan penyalahgunaan kekuasaan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa perlindungan santri harus berjalan beriringan dengan pemberdayaan dan pengembangan potensi mereka agar mampu menghadapi tantangan zaman.

“Santri harus mampu membaca kitab, tetapi juga mampu membaca peluang. Santri harus kuat dalam ilmu agama, tetapi juga terampil menghadapi tantangan kehidupan. Santri harus menjaga tradisi, tetapi tidak boleh tertinggal dalam inovasi,” tuturnya.

 

Hadirkan Dua Narasumber dari Kalangan Akademisi dan Praktisi

Untuk memberikan pemahaman yang komprehensif kepada peserta, panitia menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. H. Nurofi’ah Bil, UZM, Manager Akademik Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal sekaligus dosen Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ), serta Ade Siti Maryam, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Kedua narasumber diharapkan dapat memberikan penguatan dari perspektif nilai-nilai keagamaan, pendidikan karakter, dan psikologi remaja. Materi yang disampaikan juga diarahkan untuk meningkatkan pemahaman mengenai pencegahan perundungan, perlindungan diri, kesehatan psikologis, serta pembentukan pergaulan yang sehat dan bertanggung jawab.

Baca Juga  Perkuat Patroli Malam, Komitmen Ditlantas Polda Sulbar Jaga Kamseltibcarlantas Sepenuh Hati

Melalui seminar ini, sebanyak 200 santri diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan dan pelopor gerakan antiperundungan di lingkungan pesantren masing-masing.

Apresiasi Dukungan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya

 

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Kemenag Kabupaten Tasikmalaya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Bupati Tasikmalaya beserta jajaran pemerintah daerah atas perhatian dan dukungannya terhadap penguatan pendidikan keagamaan serta pemberdayaan pondok pesantren.

Menurutnya, dukungan pemerintah daerah melalui fasilitasi dan bantuan hibah untuk program penguatan pesantren merupakan bentuk sinergi nyata antara pemerintah daerah dan Kementerian Agama dalam membangun sumber daya manusia yang berkarakter, berakhlak, dan berdaya saing.

Kehadiran Bupati Tasikmalaya dalam pembukaan seminar juga memperkuat semangat kolaborasi untuk mewujudkan visi “Santri Maju, Santri Mampu”, sehingga para santri tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga mampu menghadapi tantangan perkembangan zaman.

 

Prestasi Santri Tasikmalaya Jadi Inspirasi

Pada kesempatan yang sama, Kepala Kemenag turut mengangkat prestasi membanggakan santri Kabupaten Tasikmalaya di tingkat nasional maupun internasional.

Salah satunya adalah Hayunda, santri Pondok Pesantren Thoriqul Huda, Karangnunggal, yang berhasil meraih Juara I Duta Santri Tingkat Nasional Tahun 2025 serta penghargaan Best Public Speaking pada ajang Duta Santri Tingkat Internasional pada awal 2026.

Kehadiran Hayunda dalam kegiatan tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi para santri untuk terus mengembangkan kemampuan, meningkatkan kepercayaan diri, dan berani meraih prestasi hingga tingkat dunia.

“Semoga dari 1.448 pesantren dan 48.956 santri di Kabupaten Tasikmalaya, lahir Hayunda-Hayunda lainnya yang mampu mengharumkan nama Tasikmalaya di tingkat nasional maupun internasional,” harapnya.

 

Dorong Gerakan Bersama Mewujudkan Pesantren Ramah Anak

Seminar Edukasi Santri ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi langkah awal dalam membangun budaya pendidikan pesantren yang aman, ramah anak, adaptif, dan mandiri.

Melalui program Pesantren Connect 2026, Kemenag Kabupaten Tasikmalaya terus berupaya memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, para kiai, pengasuh pesantren, akademisi, serta seluruh pemangku kepentingan dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan perlindungan santri.

Keberhasilan pendidikan pesantren tidak semata-mata diukur dari banyaknya santri yang menguasai ilmu pengetahuan dan agama, tetapi juga dari kemampuan lembaga pendidikan dalam menjaga keselamatan, martabat, dan masa depan mereka.

Semangat yang diusung dalam kegiatan ini menjadi pengingat bagi seluruh pihak untuk bersama-sama mewujudkan pesantren yang aman dan nyaman bagi para santri.

“Pesantren Aman, Santri Nyaman. Santri Berakhlak, Santri Berkarya. Santri Maju, Santri Mampu!” (UR)

U Rustandi
Author: U Rustandi