oleh

Kopdar 5 Pegiat Aksara Kawi, Ajang Diskursus Rumuskan Metode Silabus Pembelajaran Aksara

NganjukDisvoverynews.id  – Hari menjelang petang, tatkala Mentari bersiap beranjak pulang ke peraduan. Sinar sang bagaskara berpendar, menebus rimbunnya dedaunan Sono Keling, menerangi pelataran Pawinihan – sebuah Kedai yang berada di tengah hutan.

 

Jarum jam menunjukkan pukul 17.l00, saat puluhan orang – pegiat Aksara Kawi – tampak mulai berdatangan dari berbagai penjuru daerah mulai dari Jakarta, Bali, Surabaya, Gresik, Lamongan, Blitar, Kediri, Ponorogo, dan daerah lain di Jawa timur hingga Jogja, dan Jawa Tengah.

 

Kedatangan mereka di Bhumi Anjuk Ladang dalam rangka agenda Kopdar #5 Pegiat Aksara Kawi yang digelar selama 2 hari, 17 – 18 Oktober 2026. Kegiatan tahunan ini merupakan agenda rutin, dan bukan sekedar acara ngopi, jagong dan diskusi, namun menjadi sarana memperkuat ikatan bersama dalam satu spirit pelestarian Aksara Nusantara khususnya Kawi.

Pemilihan lokasi Kopdar #5 di Pawinihan, Desa Karangsono, Kec. Loceret, Kab.Nganjuk seolah menjadi refleksi sekaligus pengingat sebab embrio (benih) lembaga Widya Aksara di tahun 2022 lahir di Pawinihan yang ditandai oleh kegiatan Sinau Bareng Aksara Jawa Kuna.

 

Dan kini, setelah 4 tahun berlalu – kegiatan kali ini kembali digelar dan diinisiasi Kulwan Wilis, Wetan Wilis, Wali Dwipa sedangkan Widya Aksara dipercaya oleh Komunitas Pegiat Aksara dari berbagai daerah di Nusantara untuk menjadi Tuan Rumah.

 

Hari mulai gelap saat agenda utama Kopdar dimulai. Pembacaan Macapatan oleh Mas Heri Purwanto, dilanjutkan oleh Materi Penanggalan oleh Rikza hingga Musikalitas Puisi dan Monolog oleh Kopling yang dipandu oleh ibu Sukartini.

 

Hari semakin larut dan udara dingin menyergap namun tak menyurutkan suasana pertemuan, bahkan semakin menghangat akrab dan penuh canda.

 

Seperti halnya Kopdar di tahun sebelumnya, tampak beberapa orang membentuk kelompok kecil yang tampat asik menggelar diskursus. Mulai dari diskusi sejarah, bedah prasasti, hingga sekedar ngopi membahas arah perkembangan aksara di Nusantara Aksara Kawi.

“Tujuan survei ini untuk mengukur seberapa efektif metode pembelajaran yang dilakukan oleh rekan2 dari daerah lain, sehingga kelak tidak hanya direplikasi, melainkan dijadikan pedoman baku untuk silabus pembelajaran” ujarnya kepada Penabudaya.

Baca Juga  Semua Pelaku yang Terlibat dalam Kasus Tindakan Kejahatan Kemanusiaan dan Lingkungan yang Sangat Brutal Barbar Ini Seharusnya Dilaporkan, Diproses, dan Diadili Kasusnya di Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court / ICC)

Ketua Widya Aksara Lor Wilis ini menambahkan setiap lembaga memiliki metode yang berbeda, dengan indikator capaian yang berbeda pada setiap sesi mata pelajaran.

Kita butuh menyelaraskan metode, agar kelak bisa menjadi rujukan dan berkontribusi saat menyusun kurikulum pada mata pelajaran Bahasa Jawa, lewat Muatan Lokal

Seperti diberitakan, Muatan Lokal (Mulok) Bahasa Jawa menjadi mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk jenjang pendidikan SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA/SMK.

Regulasi mengenai muatan lokal (mulok) Bahasa Jawa telah diatur melalui produk hukum dari gubernur dan kepala daerah di berbagai wilayah (seperti Keputusan Gubernur atau Peraturan Gubernur) untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah

Jika rumusan Silabus ini rampung, kami selaku pegiat Aksara Kawi sangat optimis bahwa materi Aksara Kawi dapat masuk kedalam Mulok Bahasa Jawa, dan anak-anak muda dapat belajar mendalami Aksara Kawi” pungkasnya.

Perhelatan ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak antara lain,  Kulwan Wilis – Arif Ningtyas, Wetan Wilis -Doni Wicaksono, Wali Dwipa – Wayan Sila Sayana, Yayasan Dvipantara Sanskrtam pimpinan I Made Suyasa.,  Asta Gayatri – Ady Portnoy, SANHK – Yayuk Setyaningsih,  Kopling dipandegani Heru Sang Amurwabhumi,  Koṭa Sejuk yang dipimpin Āmīn Fuadi, Galaxy – Nur kholis, Akṣara Di nusantara dan bahnoo – Dwiki, BBJK pimpinan Heri Purwanto, Teropong Sejarah Tuban yang digawangi Prayudha, Rumah Ilalang pimpinan Kang Rego, Yayasan Putra Nusantara – Rahmani, Babad Anjuk Ladang –  Lintang Chandra, Setya akṣara –  Yayuk setyaningsih, Kojakun Sutasoma  – Aang Pambudi, Lelaku nusantara – Ageng Gumelar, Pakasa Nganjuk pimpinan KRAT Sukoco Madunagoro,  Joglo Pawiyatan pimpinan Ki Reksa, MSC – M Rikza F. Sh, Kawi kawentar – Eko, Pemerhati Sejarah Nganjuk – Ujang, Paguyuban Macapat iśana wikrama – Nyimas Abdi Semar, Kotaraja Gresik – Ali Sujono, dan Sidoarjo Masa Kuno -dr Sudi Harjanto.

( Red / Jatim )

Andi
Author: Andi