oleh

Blokade Jalan Tak Membawa Hasil, Polisi Bubarkan Paksa Unjuk Rasa Mahasiswa

PONTIANAK,Discoverynews.id ~ Kepanikan melanda jantung Kota Pontianak, Kalimantan Barat, pada Rabu menjelang malam, 21 Oktober 2026. Suasana kekasaran dan ketegangan Bundaran Digulis Universitas Tanjungpura (Untan) ketika mentari surut.

Ribuan pandangan mata tertuju pada lautan mahasiswa yang memilih bertahan di tengah jalan raya, mengubah persimpangan jalan yang biasanya sibuk menjadi medan konflik terbuka antara massa aksi dan aparat keamanan.

Rangkaian peristiwa memanas ini bermula dari pergerakan massa mahasiswa yang sebelumnya menggelar aksi unjuk rasa di Kantor Gubernur Kalimantan Barat.

Para demonstrant membawa isu krusial mengenai tuntutan terhadap dugaan aksi premanisme yang disinyalir melibatkan oknum organisasi kemasyarakatan (ormas).

Merasa aspirasi belum sepenuhnya terpenuhi, gelombang mahasiswa ini kemudian bergeser menuju Bundaran Digulis Untan untuk melanjutkan aksi meluapkan desakan moral mereka.

Seiring berjalannya waktu hingga sore beranjak gelap, blokade jalan yang dilakukan oleh mahasiswa mulai melumpuhkan arus lalu lintas di kawasan strategis tersebut.

Langkah pemblokiran ini menjadi sinyal memuncaknya ketegangan, ketika ruang negosiasi perlahan menyempit.

Kesadaran akan melampaui batas waktu penyampaian pendapat di muka umum mulai membuat barisan kepolisian mengambil posisi bersiaga penuh.

Tepat ketika jarum jam menunjukkan sekitar pukul 18.20 WIB, batas kesabaran aparat mencapai puncaknya di bawah paparan lampu penerangan jalan.

Menurut laporan tim redaksi yang memantau lokasi, aparat kepolisian mengambil tindakan tegas dengan membubarkan massa secara paksa.

Mobil taktis water cannon dikerahkan ke barisan depan dan langsung menyemprotkan jet air bertekanan tinggi untuk memecah barisan mahasiswa yang masih gigih bertahan.

Tindakan pembubaran paksa ini menjadi penutup dramatis dari unjuk rasa yang berangkat dari keresahan atas aksi premanisme.

Di tengah deburan air dan riuh hembusan angin malam, tempat yang semula menjadi wadah penyampaian aspirasi berubah menjadi saksi bisu pembubaran benteng pertahanan mahasiswa. (R)

Baca Juga  Disomasi Warga, PT Cahaya Pelita Andhika Ditagih Janji Plasma