oleh

Pendiri Rumah Bakso Cipanas, H. Maulana, Mengusung Konsep Usaha Kuliner Sederhana Dengan Harga Terjangkau.

 

 

CIANJUR — Discoverynews.id – Di tengah persaingan bisnis kuliner yang kerap mengedepankan kemewahan tempat dan fasilitas, Rumah Bakso Cipanas justru memilih konsep sederhana. Dengan harga Rp17.000, pelanggan dapat menikmati bakso dan gulai kambing melalui sistem serok sendiri.

Konsep tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Rumah Bakso Cipanas membuktikan bahwa keberhasilan usaha kuliner tidak selalu harus bermula dari modal besar, tempat mewah, ataupun ekspansi bisnis secara masif. Efisiensi, konsistensi kualitas, dan pemahaman terhadap kebutuhan konsumen justru menjadi fondasi penting dalam membangun usaha yang berkelanjutan.

Pendiri Rumah Bakso Cipanas, H. Maulana, menuturkan bahwa usaha tersebut lahir melalui pertimbangan yang matang. Awalnya, lokasi yang kini digunakan untuk usaha kuliner itu direncanakan menjadi hotel atau rumah kos. Namun, melihat kedekatan keluarganya dengan dunia usaha bakso, ia akhirnya memutuskan untuk mengembangkan bisnis kuliner.

“Saya dan keluarga sudah mengenal usaha bakso. Akhirnya saya mencoba membuat sendiri, mulai dari membeli bahan di pasar sampai mengolahnya,” ujar H. Maulana, Selasa (27/10/2026).

Menurutnya, tantangan terbesar dalam menjalankan usaha bukan semata-mata menciptakan cita rasa, melainkan menjaga konsistensi kualitas sekaligus mengelola biaya produksi. Dengan skala usaha yang masih perlu terus dikembangkan, efisiensi menjadi faktor penting agar harga jual tetap terjangkau tanpa mengabaikan kualitas produk.

“Kalau volumenya sedikit, biaya yang harus ditanggung tetap ada. Karena itu, salah satu cara menekan risiko adalah meningkatkan volume penjualan,” jelasnya.

H. Maulana juga memiliki pandangan tersendiri mengenai konsep tempat usaha. Baginya, tempat makan yang terlalu mewah berpotensi menimbulkan persepsi bahwa harga makanan yang ditawarkan juga mahal. Karena itu, ia memilih konsep sederhana agar masyarakat dari berbagai kalangan dapat menikmati makanan dengan nyaman dan harga yang bersahabat.

Baca Juga  Gara-Gara Hutang Rp1,8 Juta Berujung Sabetan Pisau Berdarah di Tengah Kota Pontianak

“Kalau tempatnya terlalu mewah, tentu ada biaya tambahan. Saya ingin menghadirkan tempat makan yang bisa dinikmati masyarakat tanpa merasa makan enak itu mahal,” ungkapnya.

Dalam mengembangkan usaha, H. Maulana juga tidak ingin terburu-buru membuka banyak cabang. Menurutnya, ekspansi harus didasarkan pada perhitungan bisnis yang matang, terutama berkaitan dengan biaya sewa tempat, kebutuhan tenaga kerja, serta kemampuan pendapatan untuk menutup biaya operasional.

Baginya, pertumbuhan usaha bukan sekadar persoalan memperbanyak cabang, melainkan bagaimana memastikan setiap keputusan bisnis tetap terukur dan mampu menjaga keberlangsungan usaha dalam jangka panjang.

Filosofi Rumah Bakso Cipanas memberikan pelajaran bahwa membangun bisnis tidak harus selalu mengikuti gengsi atau tren kemewahan. Memahami karakter konsumen, menjaga kualitas, mengendalikan biaya, serta meningkatkan volume penjualan menjadi langkah penting dalam menghadapi persaingan.

Pada akhirnya, keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari besarnya bangunan atau banyaknya cabang, tetapi juga dari kemampuan mempertahankan kepercayaan pelanggan dan menjalankan bisnis secara berkelanjutan.

Melalui konsep bakso Rp17.000, H. Maulana ingin menunjukkan bahwa kesederhanaan yang dibangun dengan perhitungan tepat dapat menjadi kekuatan bisnis. Sebab, dalam dunia usaha, efisiensi dan konsistensi sering kali lebih menentukan daripada kemewahan yang dipaksakan.

(Bach)

Kusna
Author: Kusna