CIANJUR, Discoverynews.id – Jargon “Ratakan” yang selama ini jadi ciri khas Kapolres Cianjur, AKBP Beddy Suwendi, kini benar-benar dibuktikan. Bukan sekadar slogan, tapi perintah yang berlaku rata dari pimpinan hingga anggota paling bawah.
Pada Rabu, 4 November 2026, Polres Cianjur resmi melarang seluruh personelnya menggunakan vape yang sudah dilarang pemerintah.
Bedanya dengan larangan di tempat lain, di Cianjur larangan ini tidak tebang pilih. Beddy menegaskan, larangan itu berlaku untuk semua, termasuk dirinya sebagai Kapolres.
“Vape yang dilarang oleh pemerintah, kami dari Polres Cianjur sudah memerintahkan tidak ada lagi seluruh anggota polisi untuk menggunakan vape, termasuk Pak Kapolres, tidak ada lagi menggunakan vape,” ujar Beddy.
Ini Perintah Kapolri, Bukan Sekadar Aturan Polres
Beddy tidak ingin larangan ini dianggap sebagai kebijakan iseng. Ia menegaskan, dasarnya adalah perintah langsung dari Kapolri.
“Ingat, ini perintah Pak Kapolri! Sampai ada anggota yang masih menggunakan vape, berarti akan kita tindak tegas sesuai dengan prosedur yang berlaku,” tegasnya.
Artinya, anggota yang ketahuan masih nge-vape bukan lagi sekadar ditegur seniornya. Mereka berhadapan dengan pelanggaran disiplin yang sudah ada prosedur hukumnya.
Bukan Cuma Soal Vape
Dalam kesempatan yang sama, Beddy juga menegaskan Polres Cianjur berkomitmen penuh menjalankan program Kapolri untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
Program itu mencakup tiga hal yang paling meresahkan warga Cianjur saat ini:
1. Pemberantasan narkotika
2. Peredaran minuman keras
3. Penanganan kejahatan jalanan
“Kita akan atensi dan segera melaksanakan program-program tersebut sehingga masyarakat Kabupaten Cianjur merasa aman dan nyaman,” pungkasnya.
Kenapa Langkah Ini Penting?
Langkah Beddy ini punya pesan ganda. Ke dalam, ia ingin membersihkan internal dari kebiasaan yang merusak citra polisi. Ke luar, ia ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa polisi tidak hanya bisa menindak warga, tapi juga berani menindak dirinya sendiri.
Jika seorang Kapolres saja berani bilang “Saya juga dilarang”, maka tidak ada lagi alasan bagi anggota untuk sembunyi-sembunyi nge-vape di balik seragam.
Kini bola ada di lapangan. Masyarakat Cianjur akan melihat, apakah “Ratakan” ini benar-benar rata, atau hanya rata di atas kertas.










