Teheran, DiscoveryNews.id – 19 Juni 2026 – Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan telah menyetujui nota kesepahaman (MoU) antara Iran dan Amerika Serikat yang bertujuan mengakhiri ketegangan serta membuka jalan bagi perundingan lanjutan antara kedua negara.
Pernyataan tersebut disampaikan Khamenei dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah Iran pada Kamis (18/6). Ia mengaku memiliki sejumlah keberatan terhadap isi kesepakatan, namun akhirnya memberikan persetujuan setelah menerima jaminan dari Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, bahwa kepentingan nasional Iran tetap akan dilindungi. Reuters melaporkan bahwa Khamenei menyetujui MoU tersebut setelah memperoleh kepastian mengenai perlindungan hak-hak Iran dalam proses negosiasi mendatang.
Khamenei juga menyoroti peran Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam tercapainya kesepakatan tersebut. Menurutnya, Washington menunjukkan keinginan kuat untuk segera mencapai penyelesaian konflik.
“Presiden AS-lah yang, karena putus asa, menggunakan berbagai titik tawar untuk tujuan ini,” ujar Khamenei seperti dikutip AFP melalui media pemerintah Iran.
Meski menyetujui kesepakatan, Khamenei menegaskan bahwa langkah tersebut tidak berarti Teheran menerima seluruh tuntutan Washington. Ia menekankan bahwa Iran akan tetap mempertahankan posisi dan kepentingan strategisnya dalam setiap pembicaraan lanjutan.
MoU yang ditandatangani kedua negara pekan ini dipandang sebagai langkah awal menuju normalisasi hubungan yang selama puluhan tahun diwarnai ketegangan. Kesepakatan itu mencakup penghentian sejumlah aktivitas yang memicu konflik serta pembukaan jalur diplomatik untuk membahas isu keamanan kawasan dan persoalan lainnya.
Pemerintah Amerika Serikat hingga kini belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan terbaru Khamenei. Namun sebelumnya, Trump menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan tersebut dapat menjadi fondasi bagi hubungan yang lebih stabil antara Washington dan Teheran.
Perkembangan ini mendapat perhatian luas dari komunitas internasional karena berpotensi mengubah dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah setelah bertahun-tahun hubungan Iran dan Amerika Serikat berada dalam kondisi tegang.







Komentar