Damaskus, Discoverynews.id 17 juli 2026– Bertahun-tahun setelah perang saudara Suriah meluluhlantakkan kawasan Jobar di timur Damaskus, ribuan warga yang kembali ke kampung halamannya masih menghadapi perjuangan berat untuk membangun kembali rumah-rumah yang hancur. Meski rezim lama telah tumbang, proses rekonstruksi masih terhambat oleh keterbatasan dana, kerusakan infrastruktur, serta kebijakan pemerintah yang belum memberikan kepastian bagi para pemilik lahan.
Jobar merupakan salah satu wilayah yang paling terdampak selama konflik Suriah yang berlangsung selama 13 tahun. Kawasan tersebut sempat menjadi basis kelompok oposisi antara 2012 hingga 2018 sebelum direbut kembali oleh pasukan pemerintah. Selama periode itu, wilayah tersebut terus dihantam serangan udara, artileri, hingga dugaan serangan senjata kimia.
Akibatnya, sekitar 95 persen bangunan di Jobar mengalami kerusakan atau hancur total, menjadikan kawasan yang dahulu ramai itu berubah menjadi kota mati.
Salah seorang warga, Ahmad (bukan nama sebenarnya), mengenang rumah kakek dan toko pakaian milik ibunya yang kini hanya menyisakan puing-puing.
“Rumah itu milik kakek saya,” katanya kepada Al Jazeera sambil menunjuk bangunan yang nyaris roboh setelah bertahun-tahun terbengkalai.
Selain bangunan yang hancur, jaringan terowongan bawah tanah yang dibangun kelompok oposisi selama perang kini menjadi tantangan besar bagi proses pembangunan kembali.
Terowongan tersebut dahulu digunakan untuk menghindari serangan udara, namun kini menyebabkan struktur tanah menjadi tidak stabil. Beberapa bangunan bahkan dilaporkan ambruk akibat rongga besar di bawah permukaan tanah.
Di sisi lain, operasi pembersihan ranjau masih berlangsung sehingga banyak area belum dinyatakan aman untuk dihuni kembali.
Ironisnya, sejumlah warga mengaku belum memperoleh izin untuk memperbaiki atau membangun kembali rumah mereka, meskipun menggunakan dana pribadi.
Salem Sawan, mantan tenaga medis berusia 59 tahun yang kini tinggal di apartemen sewaan, mengatakan dirinya ingin kembali ke rumah lamanya. Namun, menurutnya, pemerintah menyampaikan bahwa kawasan tersebut masih menunggu rencana pembangunan tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut kepada warga.
Laporan Al Jazeera menyebut pemerintah Suriah bersama investor swasta tengah mempertimbangkan proyek pembangunan besar di kawasan Jobar yang nilainya diperkirakan mencapai 21 miliar dolar AS dan berpotensi menciptakan sekitar 200.000 lapangan kerja.
Namun, rencana tersebut memicu penolakan karena warga disebut hanya akan memperoleh sekitar 50 persen dari luas rumah lama mereka serta 30 persen dari lahan yang dikategorikan sebagai area pertanian.
Persoalan utama rekonstruksi Suriah adalah pendanaan. Bank Dunia memperkirakan biaya pembangunan kembali negara tersebut mencapai sekitar 216 miliar dolar AS, sementara hampir 90 persen penduduk Suriah masih hidup di bawah garis kemiskinan.
Peneliti dari ODI Global, Cao Yue, mengatakan pemerintah Suriah memiliki anggaran yang sangat terbatas sehingga berupaya menarik investasi asing, terutama dari negara-negara tetangga.
Sementara itu, Kepala Kebijakan Program Global Risks and Resilience ODI Global, Mauricio Vazquez, menegaskan bahwa rekonstruksi bukan hanya membangun kembali gedung yang hancur.
“Masyarakat membutuhkan rumah, tetapi juga layanan dasar seperti pendidikan, sanitasi, air bersih, listrik, dan tata kelola pemerintahan,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Meski menghadapi berbagai tantangan, optimisme masih terlihat di kalangan warga Jobar. Mahmoud al-Ajouz, seorang penggali kubur yang tetap bertahan di kawasan itu selama perang, yakin kampung halamannya akan kembali hidup.
“Kami akan membangunnya kembali dengan tangan kami sendiri, bersama negara,” katanya.







Komentar