Jakarta Discoverynews.id – Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) mengungkapkan sebanyak 624 personel militer Amerika Serikat mengalami luka-luka akibat konflik bersenjata dengan Iran yang berlangsung sejak Februari 2026. Data tersebut merupakan pembaruan resmi yang dipublikasikan melalui Defense Casualty Analysis System (DCAS) dan dilaporkan oleh sejumlah media internasional, termasuk The New York Times.
Berdasarkan data resmi Pentagon, sebagian besar personel mengalami cedera akibat serangan rudal balistik, pesawat nirawak (drone), serta ledakan yang menghantam sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Jumlah korban luka tersebut menunjukkan meningkatnya dampak konflik terhadap personel militer AS selama beberapa bulan terakhir.
Laporan itu juga menandai pertama kalinya pemerintah Amerika Serikat secara terbuka mengungkap jumlah keseluruhan personel yang terluka dalam perang melawan Iran. Sebelumnya, informasi mengenai korban di pihak militer AS hanya disampaikan secara terbatas dan tidak dirinci secara menyeluruh.
The New York Times, mengutip pejabat Pentagon, melaporkan bahwa angka tersebut berasal dari pembaruan Defense Casualty Analysis System (DCAS) per 27 Juli 2026. Sistem tersebut merupakan basis data resmi Departemen Pertahanan AS yang digunakan untuk mencatat korban jiwa maupun korban luka di lingkungan militer Amerika Serikat.
Meski ratusan personel mengalami cedera, Pentagon menyatakan sebagian besar telah memperoleh penanganan medis, sementara sejumlah lainnya masih menjalani proses rehabilitasi. Pemerintah AS juga menegaskan akan terus memberikan pelayanan kesehatan dan dukungan kepada seluruh prajurit yang terdampak konflik.
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang pecah sejak Februari 2026 telah memicu ketegangan di kawasan Timur Tengah dan berdampak terhadap stabilitas keamanan regional. Selain korban di pihak militer, perang tersebut juga memengaruhi jalur perdagangan dan pasokan energi global.
Pemerintah Amerika Serikat menyatakan akan terus memantau perkembangan situasi keamanan di kawasan, sembari memastikan perlindungan terhadap personel militer yang masih bertugas di Timur Tengah.
Red









Komentar