KUPANG, DiscoverynewsId_ Duka menyelimuti keluarga besar Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Kupang. Salah satu kadernya, Willi Mbuik (24), menjadi korban penembakan bersama 2 ASN/CPNS lainnya di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Peristiwa itu memicu kecaman keras dari GMKI Kupang. Mereka mendesak TNI-Polri mengejar pelaku, sekaligus mengkritisi kelalaian negara dalam melindungi ASN yang bertugas di wilayah rawan konflik.
Ketua GMKI Cabang Kupang, Andraviani Fortuna Umbu Laiya, S.H., M.H., menyebut aksi kelompok bersenjata yang menghadang dan menembak warga sipil sebagai tindakan biadab yang tidak bisa ditoleransi.
“Kami mendukung penuh TNI dan Polri untuk mengejar pelaku penembakan. Jangan biarkan kelompok bersenjata merasa bebas melakukan kekerasan terhadap masyarakat. Negara harus menunjukkan kehadirannya,” tegas Andraviani, Rabu (10/9).
Namun GMKI juga melayangkan kritikan tajam. Menurutnya, Jayawijaya sudah lama dipetakan sebagai wilayah rawan.
“Kami mempertanyakan kehadiran negara sebelum peristiwa ini terjadi. Ketika diketahui wilayahnya rawan, mengapa aktivitas pelayanan masyarakat bisa berlangsung tanpa pendampingan atau pengamanan yang memadai? Jangan sampai negara baru hadir setelah korban berjatuhan,” ujarnya.
Tiga ASN/CPNS Dinas Pertanian Jayawijaya itu diketahui sedang bertugas mengantarkan bantuan kepada masyarakat saat dihadang kelompok bersenjata.
Selain Willi Mbuik kader GMKI Kupang, dua korban lainnya adalah Aprida Rapi dan Alfonsius Albinus Meha
“ASN dan masyarakat yang menjalankan aktivitas pelayanan di daerah rawan konflik tidak boleh dilepas begitu saja. Negara memiliki kewajiban memastikan mereka dapat menjalankan tugas dengan aman. Ini harus jadi evaluasi serius,” tegas Andraviani.
Tuntutan GMKI Kupang:
Aksi Tegas & Terukur
GMKI berdiri bersama TNI-Polri untuk mengejar dan menghentikan aksi kelompok bersenjata.
Evaluasi Pola Pengamanan.
Pemerintah diminta segera mengevaluasi pola pengamanan pelayanan publik di wilayah rawan konflik agar tragedi tidak terulang.
Perlindungan Sipil Jadi Prioritas. Keselamatan ASN dan masyarakat sipil harus diutamakan. Pelayanan tidak boleh membuat pelayan negara kehilangan nyawa.
Di akhir pernyataannya, GMKI Kupang menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga ketiga korban.
“Kehilangan ini adalah duka bagi keluarga, masyarakat, dan khususnya keluarga besar GMKI Cabang Kupang. Kami berdiri bersama TNI dan Polri untuk melindungi masyarakat. Negara harus hadir sebelum, ketika, dan setelah ancaman terjadi,” pungkas Andraviani.
Hingga saat ini, aparat gabungan TNI-Polri masih melakukan pengejaran terhadap kelompok bersenjata yang diduga bertanggung jawab atas penembakan tersebut.
***Red









Komentar