Pandeglang- Discoverynews.id- Pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pandeglang masih terus menjadi sorotan dan gelombang kritik publik. Kali ini, dugaan lemahnya kontrol dan pengawasan kualitas pangan mengemuka di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kubang Desa Surakarta Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pandeglang.
Pihak penyedia dan pengawas di lokasi tersebut dinilai lalai dalam memperketat kelayakan hidangan sebelum didistribusikan kepada para siswa. Masalah mencuat setelah muncul keluhan terkait menu Sempol yang tercium berbau busuk menyengat menyerupai aroma bangkai ayam, serta dihinggapi satu ekor lalat.
Tanggapan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang. Asisten Daerah (Asda) I, Doni Hermawan, awalnya mengaku belum menerima laporan resmi dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Pandeglang dan baru informasi awal dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Saat dikonfirmasi oleh awak media pada hari Jumat 16 Oktober 2026 mengenai hasil pengecekan di lapangan. Apakah sudah ada laporan resmi atau hasil pengecekan di lapangan dari pihak Dinkes dan BGN terkait hal tersebut, dan
langkah atau imbauan apa yang akan dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Pandeglang atas adanya keluhan masyarakat penerima makanan tersebut?
Doni Hermawan memberikan tanggapan singkat via pesan WhatsApp. Ia mengklaim bahwa makanan tersebut telah diperiksa dan dinyatakan tidak beracun, serta menyimpulkan bahwa bau tak sedap tersebut berasal dari proses pengolahan daging.
“Ia sudah di cek tidak beracun, bau dari daging yang di olah, itu kesimpulan yang didapat,” ujar Doni singkat.
Kritik Tajam dari Ormas Bapera. Jangan Tunggu Ada Korban Keracunan, tanggapannya yang dinilai normatif menuai reaksi keras dari organisasi kemasyarakatan. Irfan Bulle, anggota Barisan Pemuda Nusantara (BAPERA) Kabupaten Pandeglang, menyayangkan lemahnya sistem pengawasan dari pihak pengelola MBG maupun dinas terkait.
Irfan menegaskan, bahwa pembuktian teknis pasca-kejadian itu memang sulit untuk dibuktikan, namun peristiwa itu harus menjadi peringatan keras bagi SPPG Kubang Pagelaran agar tidak ceroboh di masa mendatang.
“Persoalannya, jangan sampai menunggu ada anak yang keracunan baru bertindak. Sebelum makanan dibagikan, wajib ada pengecekan ketat terlebih dahulu apakah layak dikonsumsi atau tidak,” tegas Irfan.
Ia juga mempertanyakan keberadaan tim pengawas tersebut. Menurutnya, buruknya kualitas makanan bisa berpotensi menimbulkan bahaya terhadap penerima, juga bisa membuang-buang anggaran negara secara sia-sia (mubazir) jika makanan akhirnya terpaksa ada yang dibuang,









