MAMUJU, Discoverynews.id — Setiap pagi, sejumlah persimpangan jalan di Kota Mamuju menjadi saksi bagaimana personel Polisi Lalu Lintas Polda Sulawesi Barat hadir bukan sekadar mengatur arus kendaraan.
Di balik gerakan tangan mengarahkan kendaraan, sapaan kepada pengendara hingga teguran yang diberikan, tersimpan satu pesan sederhana: setiap orang yang berada di jalan harus bisa kembali ke rumah dengan selamat.
Pesan itulah yang dikemas Ditlantas Polda Sulbar melalui pendekatan humanis bertajuk “Teguran Cinta”.
Personel Polantas terlihat sigap mengatur arus lalu lintas dari berbagai arah sekaligus melakukan pengawasan terhadap kepatuhan pengendara. Sejumlah pengguna jalan yang kedapatan melakukan pelanggaran turut dihentikan.
Mulai dari pengendara yang tidak menggunakan helm keselamatan hingga kendaraan yang tidak dilengkapi spion menjadi perhatian petugas.
Namun, teguran yang diberikan tidak selalu berujung pada tindakan penindakan.
Petugas terlebih dahulu menyapa, kemudian menjelaskan dengan sabar mengenai bahaya dan konsekuensi dari pelanggaran yang dilakukan. Pendekatan tersebut dilakukan bukan untuk menghakimi, melainkan membuka kesadaran pengendara bahwa aturan lalu lintas pada dasarnya dibuat untuk melindungi keselamatan mereka sendiri.
Cara sederhana itu ternyata mampu menghadirkan respons positif.
Sejumlah pengendara mengaku merasa lebih dihargai ketika mendapatkan penjelasan secara langsung. Teguran yang disampaikan dengan bahasa humanis justru membuat mereka memahami pentingnya menggunakan perlengkapan keselamatan dan mematuhi aturan lalu lintas.
Bagi petugas, inilah esensi dari “Teguran Cinta”.
Direktur Lalu Lintas Polda Sulbar, Kombes Pol Nurhadi Ismanto, yang turun langsung memimpin kegiatan tersebut menegaskan bahwa pendekatan edukatif bukan berarti kepolisian mengabaikan pelanggaran.
Sebaliknya, edukasi dan teguran humanis menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat agar budaya tertib berlalu lintas tumbuh dari dalam diri setiap pengendara.
“Kami menyebut ini ‘Teguran Cinta’. Kami menegur bukan karena ingin menindak, tapi karena kami peduli. Setiap pengendara yang melintas adalah orang-orang yang dicintai keluarganya. Kami ingin memastikan mereka pulang dengan selamat,” tutur Kombes Pol Nurhadi Ismanto.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa di balik sebuah pelanggaran kecil di jalan raya, ada keselamatan yang dipertaruhkan.
Helm yang tidak digunakan, spion yang tidak terpasang, atau kelalaian kecil lainnya bisa saja menjadi awal dari risiko kecelakaan yang lebih besar.
Karena itu, Ditlantas Polda Sulbar terus mendorong pendekatan yang mengedepankan edukasi, komunikasi dan kesadaran masyarakat.
Namun demikian, Dirlantas menegaskan pendekatan humanis tetap berjalan beriringan dengan penegakan hukum.
Terhadap pelanggaran yang dilakukan berulang kali, membahayakan pengguna jalan lain, maupun pelanggaran yang membutuhkan tindakan tegas, penegakan hukum tetap dilakukan sesuai ketentuan.
Sementara bagi masyarakat yang masih kurang memahami pentingnya disiplin berlalu lintas, teguran dan edukasi menjadi langkah awal untuk mengubah perilaku.
Sebab tujuan akhirnya bukan sekadar membuat masyarakat takut terhadap tilang.
Lebih jauh dari itu, Polantas ingin membangun kesadaran agar masyarakat tertib karena memahami pentingnya keselamatan.
Tertib bukan karena takut ditilang. Tertib karena sadar bahwa ada keluarga yang menunggu di rumah.
Itulah makna “Teguran Cinta” Polantas Polda Sulbar—sebuah teguran yang mungkin terdengar sederhana, namun lahir dari kepedulian agar setiap perjalanan berakhir dengan satu hal yang paling penting: selamat sampai tujuan.










