Gorontalo, Discoverynews.id – Provinsi Gorontalo memperkenalkan kekayaan seni dan tradisi daerah melalui penampilan tari tradisional Tidi Lo Polopalo dalam Festival Negeri Kami (FNK) 2026 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (25/10/2026). Penampilan tersebut menjadi salah satu upaya memperkenalkan warisan budaya Gorontalo kepada masyarakat luas di tengah keberagaman seni Nusantara.
Festival yang mengusung tema “Merayakan Ragam, Menyatukan Negeri” itu diikuti kontingen dari 38 provinsi di Indonesia. Masing-masing daerah menampilkan identitas budayanya melalui busana adat, seni tari, dan tradisi khas yang mencerminkan kekayaan budaya bangsa.
Festival Negeri Kami 2026 digagas oleh International Creatives Exchange (ICE) melalui kolaborasi dengan Forum Komunikasi Penghubung Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (FORKAPPSI). Pembukaan kegiatan dilakukan secara simbolis oleh Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Ahmad Mahendra, yang mewakili Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pawai budaya yang menghadirkan kontingen dari seluruh provinsi peserta. Setelah prosesi pembukaan, panggung festival dimeriahkan dengan penampilan tarian tradisional dari berbagai daerah, termasuk tari Tidi Lo Polopalo yang dibawakan oleh perwakilan Gorontalo.
Salah seorang penari Gorontalo, Melodi (21), mengaku bangga mendapat kesempatan membawakan tarian tersebut di hadapan masyarakat dari berbagai daerah. Mahasiswi semester VII jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, itu menyebut pengalaman tersebut sangat berkesan karena tari Tidi Lo Polopalo relatif jarang ditampilkan dalam berbagai kegiatan.
“Perasaannya senang dan bersemangat. Karena tarian ini cukup langka atau jarang ditampilkan di berbagai tempat. Tarian Tidi juga termasuk tarian yang sangat sakral di Gorontalo, sehingga saya merasa merinding saat tampil,” ungkap Melodi.
Ia menjelaskan, dirinya telah mempelajari dua tarian khas Gorontalo, yakni Saronde dan Tidi Lo Polopalo. Melalui keikutsertaannya dalam festival tersebut, ia berharap seni tari Gorontalo semakin berkembang, melahirkan lebih banyak kreasi, serta semakin dikenal oleh masyarakat Indonesia.
Menurutnya, kesempatan tampil dalam festival berskala nasional menjadi pengalaman berharga untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan tradisi leluhur.
Sementara itu, pendiri sekaligus Global Head International Creatives Exchange, Atta Ul Karim, mengatakan Festival Negeri Kami lahir dari rasa terima kasihnya kepada Indonesia. Gagasan penyelenggaraan festival tersebut mulai dirumuskan bersama tim sekitar delapan bulan sebelum pelaksanaan.
“Budaya Indonesia sangat banyak, sampai kami sempat bingung harus membuat acara seperti apa. Akhirnya saya memutuskan, saya ingin mengumpulkan 38 provinsi Indonesia di satu tempat. Hari ini, Alhamdulillah, cita-cita itu tercapai,” tuturnya.
Keikutsertaan Gorontalo dalam Festival Negeri Kami 2026 menjadi momentum untuk memperkenalkan seni dan tradisi daerah di panggung nasional. Penampilan tari Tidi Lo Polopalo juga menjadi pengingat pentingnya menjaga keberlangsungan warisan budaya agar tetap dikenal, diapresiasi, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Melalui pertemuan berbagai seni dan tradisi dari 38 provinsi, Festival Negeri Kami 2026 tidak hanya menjadi ajang pertunjukan budaya, tetapi juga ruang untuk memperkuat persatuan, memperluas apresiasi terhadap keberagaman, dan meneguhkan identitas Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan warisan budaya.










