🎡 Discovery News Theme Song

Ditolak di Salah Satu Pintu Dapur: MBG dan Apakah Wajah Baru Kapitalisme

Iklan Live Streaming Nonton Live Streaming Di Sini!

Di abad ke-21, kapitalisme tidak lagi selalu datang dengan seragam kolonial, kapal dagang, atau perusahaan asing yang menguasai pelabuhan. Kapitalisme modern hadir dengan wajah yang lebih halus. Ia berbicara tentang efisiensi, manajemen, proyek, target, citra, dan pengelolaan narasi. Ia tidak selalu merebut tanah, tetapi dapat mengendalikan informasi. Ia tidak selalu memaksa dengan kekuatan, tetapi sering bekerja melalui akses dan kontrol.

Di tengah situasi itulah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) muncul sebagai salah satu program sosial terbesar negara. Tujuannya mulia: memastikan anak-anak memperoleh asupan gizi yang lebih baik dan mengurangi ketimpangan sejak usia dini. Secara prinsip, gagasan ini sejalan dengan cita-cita keadilan sosial yang pernah diperjuangkan oleh H.O.S. Tjokroaminoto.

Namun sejarah mengajarkan bahwa niat baik tidak pernah cukup. Yang menentukan adalah bagaimana kekuasaan menjalankan niat tersebut dan bagaimana masyarakat dapat mengawasinya.

Ketika ruang wawancara dibatasi, ketika publikasi tidak diterima dengan terbuka, atau ketika akses informasi menjadi semakin sempit, muncul pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar persoalan prosedur. Pertanyaannya bukan lagi tentang makanan yang disajikan, melainkan tentang siapa yang mengendalikan cerita mengenai program tersebut.

Inilah salah satu ciri kapitalisme baru: bukan hanya penguasaan atas sumber daya, tetapi juga penguasaan atas narasi.

Dalam sistem seperti ini, citra sering kali menjadi komoditas yang nilainya hampir sama pentingnya dengan hasil kerja itu sendiri. Yang diperebutkan bukan hanya keberhasilan program, tetapi juga hak untuk menentukan bagaimana keberhasilan itu didefinisikan, siapa yang boleh berbicara, siapa yang boleh melihat, dan siapa yang harus tetap berada di luar pintu.

Tjokroaminoto pernah mengkritik sistem yang membuat kekayaan dan kekuasaan terkonsentrasi pada segelintir pihak. Jika pemikirannya dibaca ulang hari ini, kritik itu dapat diperluas: bukan hanya kekayaan yang terkonsentrasi, tetapi juga informasi. Bukan hanya modal yang terpusat, tetapi juga kendali atas ruang publik.

Akibatnya, program yang lahir atas nama rakyat berisiko bergerak dalam logika yang berbeda. Rakyat menjadi penerima manfaat, tetapi tidak selalu menjadi bagian dari proses pengawasan. Pers diberi ruang sejauh mendukung narasi yang sudah disiapkan. Kritik diterima selama tidak terlalu mengganggu. Pertanyaan diperbolehkan selama tidak masuk terlalu jauh ke dapur.

Padahal demokrasi bekerja dengan cara yang berlawanan. Demokrasi mengandaikan bahwa program publik harus siap diperiksa, diuji, dipertanyakan, bahkan dikritik. Sebab uang yang digunakan adalah uang publik, nama yang dibawa adalah nama rakyat, dan tujuan yang diklaim adalah kepentingan bersama.

Ironinya, semakin sering akses dibatasi, semakin kuat kesan bahwa ada sesuatu yang ingin dikendalikan. Bukan karena pasti ada kesalahan, tetapi karena transparansi digantikan oleh manajemen persepsi.

Di sinilah kritik Tjokroaminoto menemukan relevansinya kembali. Perlawanan terhadap ketidakadilan bukan hanya soal melawan kemiskinan atau kesenjangan ekonomi. Perlawanan juga menyangkut hak masyarakat untuk mengetahui, hak untuk bertanya, dan hak untuk mengawasi kekuasaan yang bekerja atas nama mereka.

Karena kapitalisme baru tidak selalu mengambil bentuk pabrik besar atau konglomerasi raksasa. Kadang ia muncul dalam bentuk yang lebih halus: ketika citra lebih penting daripada keterbukaan, ketika narasi lebih dijaga daripada dialog, dan ketika pertanyaan dianggap lebih berbahaya daripada masalah yang ingin dijawab.

Maka persoalan penolakan wawancara atau pembatasan publikasi tidak lagi sekadar urusan teknis. Ia menjadi simbol dari pertarungan yang lebih besar antara keterbukaan dan kontrol, antara kepentingan publik dan pengelolaan citra, antara hak untuk mengetahui dan keinginan untuk mengatur apa yang boleh diketahui.

Dan di depan pintu dapur yang tertutup itu, pertanyaan lama yang pernah diajukan sejarah kembali terdengar:

Apakah program publik benar-benar milik publik, atau hanya publik yang diminta percaya tanpa diberi kesempatan untuk melihat lebih dekat?


Iklan Jasa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *