Kupang, 31 Mei 2026
Oleh: Irfan Olla – Mahasiswa Kabupaten Kupang
Kabupaten Kupang masih menyimpan luka yang menganga: Amfoang. Sebagai wilayah terluas dan berbatasan langsung dengan negara tetangga, Amfoang seharusnya jadi beranda depan pembangunan. Nyatanya, ia justru dikutuk oleh lambatnya gerak negara.
Bagi kami mahasiswa Kabupaten Kupang, setiap kunjungan pejabat, janji politik, dan dokumen perencanaan bukanlah seremoni. Itu adalah utang sejarah yang wajib ditagih. Hari ini kami menyuarakan jeritan kolektif masyarakat Amfoang yang masih terkurung isolasi infrastruktur dan ketimpangan ekonomi.
1. Pengabaian Terstruktur Selama Puluhan Tahun
Amfoang yang terdiri dari 6 kecamatan Amfoang Barat Daya, Amfoang Barat Laut, Amfoang Utara, Amfoang Tengah, Amfoang Timur, dan Amfoang Selatan, mengalami ketertinggalan multidimensional. Dua persoalan paling krusial yang melumpuhkan denyut kehidupan di sana:
A. Tidak ada jalan & jembatan layak
B. Krisis BBM subsidi yang adil
Ini bukan narasi baru. Ini akumulasi kelalaian yang dibiarkan berulang.
2. Tragedi Kemanusiaan: Jembatan Kabsali & Manubelon
Amfoang Barat Daya adalah potret paling telanjang. Jembatan Kabsali dan Manubelon hari ini bukan simbol konektivitas, tapi monumen pengabaian.
Saat musim hujan, sungai meluap dan memutus total akses. Masyarakat terisolasi. Anak sekolah bertaruh nyawa menyeberangi arus deras. Hasil bumi petani membusuk karena tak bisa sampai ke pasar Kota Kupang.
Pemerintah daerah dan Wakil Presiden harus melihat ini bukan angka di laporan. Ini soal nyawa manusia.
Kami tegas: butuh tindak lanjut cepat, konkret, dan transparan untuk penyelesaian Jembatan Kabsali dan Manubelon. Menunda pembangunan keduanya sama dengan membiarkan warga Amfoang Barat Daya hidup dalam lingkaran kemiskinan dan ancaman maut. Negara tidak boleh absen saat rakyatnya mempertaruhkan hidup demi mobilitas dasar.
3. Ketimpangan Energi: BBM Mahal di Tanah Sendiri
Isolasi tidak berhenti di jembatan. Bergerak ke Barat Laut, Utara, Tengah, hingga Timur, kita temukan penderitaan lain: krisis energi.
Di era modern, BBM adalah kebutuhan dasar. Tapi di 6 kecamatan Amfoang, rakyat harus beli BBM dengan harga mencekik. Sementara warga Kota Kupang menikmati harga subsidi Rp12.000-13.000/liter, saudara kami di pedalaman merogoh kocek berkali lipat karena rantai pasok rusak dan langkanya penyalur resmi.
Akibatnya berantai: biaya hidup naik, harga pokok meroket, daya beli lumpuh. Di mana keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia jika untuk seliter minyak saja, warga perbatasan harus dikorbankan?
4. Solusi: SPBU untuk 6 Kecamatan diAmfoang
Kami tidak hanya membawa kritik, tapi juga tuntutan solusi realistis.
Kami mendesak Pemerintah Pusat, Pemkab Kupang, Pemprov NTT, Pertamina, dan Wakil Presiden untuk segera membangun SPBU atau lembaga penyalur resmi di tiap kecamatan Amfoang.
Warga Amfoang punya hak yang sama untuk menikmati BBM subsidi sesuai HET: ±Rp12.000/liter. Kehadiran SPBU akan memutus rantai spekulan dan menjamin stok aman, bahkan saat akses putus karena cuaca. SPBU adalah kunci pembuka sumbatan ekonomi Amfoang.
Penutup: Amfoang Harus Merdeka dari Isolasi
Gerakan mahasiswa ini adalah alarm untuk penguasa. Kami menolak menutup mata saat tanah kelahiran kami dianaktirikan. Amfoang adalah bagian sah NKRI, bukan sekadar komoditas politik saat pemilu lalu dilupakan saat pembagian anggaran.
Kami menuntut komitmen politik nyata: turunkan tim teknis, alokasikan anggaran khusus, awasi langsung percepatan jembatan dan SPBU. Kami akan terus mengawal, bersuara, dan bergerak bersama rakyat sampai keadilan pembangunan itu nyata, bukan sekadar janji di atas kertas.
Amfoang tidak boleh terus menunggu. Amfoang harus merdeka!
(om Yekho/Red)










