GARUT, Karangpawitan – Komunitas Garut Zero Waste (GZW) kembali menggelar agenda edukasi bulanan bertajuk Ngobrolin Plastik dan Isu Lingkungan (Ngopi). Kegiatan yang berlangsung di Sekretariat GZW, Perum Abdi Negara 1, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Minggu (18/1/2026), kali ini mengangkat tema kritis “Ekosida: Ketika Alam Dibantai Secara Sistematis.”
Agenda tersebut dihadiri berbagai elemen masyarakat, mulai dari pegiat lingkungan, kalangan muda, hingga perwakilan pemerintah daerah. Diskusi difokuskan pada ancaman kerusakan ekosistem serta upaya-upaya nyata yang dapat dimulai dari lingkup terkecil, yakni rumah tangga.
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Garut, Edy Kuntoro, yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi atas inisiatif Garut Zero Waste. Menurutnya, keberadaan komunitas yang digerakkan oleh anak-anak muda menjadi aset penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan di Kabupaten Garut.
“Pemerintah Kabupaten Garut sangat mengapresiasi kegiatan ini. Di sini berkumpul para pegiat lingkungan yang memiliki kepedulian tinggi terhadap persoalan lingkungan, termasuk masalah sampah,” ujarnya.
Ia berharap gerakan edukasi lingkungan yang digagas GZW tidak berhenti pada satu kegiatan saja, melainkan terus berkelanjutan dan melibatkan lebih banyak pihak.
“Mudah-mudahan kegiatan ini tidak berhenti hari ini, tetapi dapat terus berlanjut dan semakin luas dengan melibatkan berbagai stakeholder untuk berkolaborasi bersama,” tambahnya.
Sementara itu, Co-Founder sekaligus Ketua Garut Zero Waste, Krismiyati, menjelaskan bahwa program Ngopi merupakan bagian dari kampanye edukasi berkelanjutan yang rutin dilaksanakan setiap bulan. Tema “Ekosida” dipilih untuk menggugah kesadaran masyarakat akan dampak mengerikan dari kerusakan alam yang terjadi secara sistematis dan berkelanjutan.
“Agenda Ngopi ini kami laksanakan sebulan sekali. Sesuai dengan kampanye utama Garut Zero Waste, kami mengajak sebanyak-banyaknya masyarakat untuk mulai memilah sampah dari rumah,” jelasnya.
Ia menambahkan, edukasi lingkungan harus dilakukan secara konsisten mengingat luasnya wilayah dan besarnya jumlah penduduk di Kabupaten Garut. Sejak dideklarasikan pada tahun 2019, Garut Zero Waste lahir dari keresahan para pendirinya terhadap persoalan sampah yang tak kunjung terselesaikan.
“Masalah sampah tidak mungkin diselesaikan sendiri-sendiri. Harus dilakukan bersama-sama melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, komunitas, dan juga pihak swasta. Semua harus bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan,” ungkapnya.
Sebagai komunitas edukator, GZW memiliki sejumlah program unggulan, di antaranya GZW Goes to School (edukasi dari PAUD hingga perguruan tinggi), GZW Goes to Office (edukasi di instansi pemerintahan dan desa), GZW Goes to Kampung (sosialisasi kepada ibu-ibu PKK, Posyandu, dan Karang Taruna), serta Ngopi (Ngobrolin Plastik dan Isu Lingkungan) sebagai diskusi rutin bulanan yang dimulai sejak 2025.
Menutup keterangannya, Krismiyati berharap para peserta yang hadir dapat menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.
“Kami berharap kegiatan Ngopi ini bisa terus konsisten meskipun baru sebulan sekali, dan semakin banyak masyarakat yang tertarik pada kegiatan bertema lingkungan dan gaya hidup ramah lingkungan,” tutupnya.
Garut Zero Waste merupakan komunitas lingkungan yang berdiri sejak 2019 di Kabupaten Garut. Komunitas ini berfokus pada edukasi pengelolaan sampah berkelanjutan dan berkomitmen membangun kesadaran masyarakat melalui aksi nyata pemilahan sampah sejak dari sumbernya.
Dede Mulyana