Discoverynews.id– Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang meninggal dalam serangan udara di tengah konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Penunjukan Mojtaba Khamenei dilakukan oleh Majelis Pakar Iran pada 8 Maret 2026 setelah posisi pemimpin tertinggi kosong pasca wafatnya Ali Khamenei. Ia menjadi pemimpin tertinggi ketiga sejak berdirinya Republik Islam Iran tahun 1979.
Pengangkatan Mojtaba memicu reaksi keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump menyatakan bahwa pemimpin baru Iran seharusnya mendapatkan persetujuan dari Amerika Serikat.
“Dia harus mendapatkan persetujuan dari kami. Jika tidak, dia tidak akan bertahan lama,” kata Trump menanggapi penunjukan tersebut. Dikutip internasional sindonews.com
Pernyataan itu semakin memperkeruh hubungan antara Washington dan Teheran yang saat ini tengah memanas akibat konflik militer di Timur Tengah. Trump bahkan sebelumnya menyebut Mojtaba sebagai sosok yang “tidak dapat diterima” untuk memimpin Iran.
Mojtaba Khamenei sendiri dikenal sebagai ulama yang memiliki pengaruh besar di lingkaran elite politik dan militer Iran, meskipun selama ini jarang tampil di publik. Ia memiliki hubungan dekat dengan Garda Revolusi Iran dan kalangan ulama konservatif.
Penunjukan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi Iran juga dinilai menandai pertama kalinya terjadi suksesi yang menyerupai sistem dinasti dalam pemerintahan Republik Islam Iran.
Situasi ini diperkirakan akan semakin memperbesar ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama di tengah konflik yang masih berlangsung antara Iran, Israel, dan sekutu Barat.
Red