Type
Upload date
Duration
Sort by
PESTA TELUR Integrasi Pencegahan Stunting dan Pemberdayaan Ekonomi Keluarga
Persoalan stunting bukan hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi anak, tetapi juga erat hubungannya dengan kondisi ekonomi keluarga, ketersediaan pangan bergizi, dan kemampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, upaya pencegahan stunting perlu dilakukan secara terpadu, tidak hanya melalui edukasi kesehatan, tetapi juga dengan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.
Berangkat dari persoalan tersebut, Yanti Permayanti, SKM, MM selaku Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana pada Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPKB P3A) Kabupaten Tasikmalaya menggagas PESTA-TELUR, yaitu Program Ekonomi dan Stunting Terpadu melalui Budidaya Ayam Petelur.
Program ini dirancang untuk menghubungkan pemenuhan gizi keluarga dengan pemberdayaan ekonomi melalui budidaya ayam petelur, pemanfaatan maggot sebagai sumber pakan, serta kolam ikan yang dikelola secara berkelanjutan. Dengan pendekatan tersebut, keluarga diharapkan tidak hanya memperoleh sumber protein hewani untuk konsumsi, tetapi juga memiliki peluang mendapatkan penghasilan tambahan dari hasil produksi.
PESTA-TELUR mengedepankan konsep kemandirian keluarga. Telur dan ikan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan bergizi bagi anak, sementara hasil produksi yang berlebih berpotensi dipasarkan untuk menambah pendapatan rumah tangga. Di sisi lain, pemanfaatan maggot sebagai pakan menjadi bagian dari upaya membangun siklus produksi yang saling mendukung.
Melalui pendekatan ini, intervensi gizi dan berjalan bersamaan dgn penguatan ekonomi tidak berjalan sendiri-sendiri. Keduanya disatukan dalam satu model pemberdayaan yang diharapkan mampu membantu keluarga meningkatkan kualitas konsumsi pangan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi.
Sasaran utama program ini adalah keluarga yang membutuhkan dukungan dalam pemenuhan gizi dan penguatan ekonomi, khususnya keluarga dengan balita yang berisiko mengalami masalah gizi. Pelaksanaan program membutuhkan pendampingan, pelatihan, serta pengelolaan budidaya yang baik agar kegiatan dapat berjalan secara produktif dan berkelanjutan.
PESTA-TELUR juga membawa pesan bahwa pencegahan stunting tidak cukup dilakukan dengan memberikan bantuan sesaat. Diperlukan upaya membangun kemampuan keluarga agar mampu menghasilkan sumber pangan bergizi secara mandiri, mengelola potensi yang dimiliki, dan mengembangkan kegiatan ekonomi yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.
Keberhasilan program ini tentu memerlukan kerja sama berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kader sebagai pendamping, hingga keluarga penerima manfaat. Edukasi mengenai gizi balita tetap menjadi bagian penting agar ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga benar-benar diikuti dengan pola konsumsi yang tepat, serta edukasi parenting diterapkan disini melibatkan anak dalam setiap proses, seperti pembersihan kandang, pemberian pakan dan pengambilan telur disesuaikan dgn kemampuan anak tentunya.
Melalui PESTA-TELUR, diharapkan tumbuh model pemberdayaan yang mengintegrasikan kesehatan keluarga, ketahanan pangan, dan ekonomi produktif. Tujuan akhirnya bukan sekadar menghasilkan telur, maggot, atau ikan, melainkan mendorong terciptanya keluarga yang lebih mandiri, anak-anak yang memperoleh asupan gizi memadai, membetuk karakter anak dan pemanfaatan lahan pekarangan dengan menafaatkan pupuk organik yang tersedia sehingga menciptakan lingkungan masyarakat yang lebih sehat, tertata dan sejahtera,
PESTA-TELUR membawa semangat bahwa keluarga yang berdaya secara ekonomi memiliki peluang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan gizi. Dari budidaya sederhana yang dikelola secara berkelanjutan, diharapkan lahir perubahan nyata menuju generasi yang sehat, cerdas, dan produktif serta membetuk karakter anak yg positif.


