DISCOVERYNEWS.ID – Situasi di kawasan Timur Tengah kembali berada di titik didih yang sangat mengkhawatirkan memasuki bulan Juni 2026 ini. Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman atau yang akrab disapa MBS, dilaporkan naik pitam dan mengecam keras tindakan agresif militer Iran baru-baru ini. Tidak tanggung-tanggung, kemarahan besar MBS ini dipicu oleh serangan rudal dan drone yang dinilai sangat brutal oleh pihak Teheran ke wilayah tetangganya. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat sang pangeran Arab Saudi begitu murka?
Berdasarkan laporan resmi Saudi Press Agency (SPA) yang dikutip oleh media Turki, Anadolu Agency pada Jumat, 5 Juni 2026, konflik mematikan ini sebenarnya bermula dari ketegangan baru di awal pekan. Saat itu militer Amerika Serikat melakukan operasi di dekat Selat Hormuz dengan menyerang kapal yang menuju Teheran serta wilayah Pulau Qeshm. Tidak tinggal diam, Teheran langsung meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone pada Rabu, 3 Juni 2026, ke pangkalan militer AS yang berada di dua negara Teluk, yaitu Bahrain dan Kuwait.
Dampak dari serangan drone Iran di Bandara Internasional Kuwait dilaporkan sangat fatal karena menewaskan satu orang warga negara India dan melukai sedikitnya 63 orang lainnya. Mendengar wilayah tetangganya dihujani rudal, MBS langsung melakukan panggilan telepon darurat dengan Raja Bahrain, Hamad bin Isa Al Khalifa pada Kamis, 4 Juni 2026. Dalam laporan SPA tersebut, MBS menyatakan kecaman dan kutukan keras dari Arab Saudi atas serangan yang menargetkan wilayah Bahrain, serta menegaskan kembali solidaritas penuh kerajaan untuk mengambil tindakan apa pun demi menjaga keamanan dan stabilitas wilayah Arab.
Melihat agresivitas Iran yang semakin melebar ke negara-negara Arab, Uni Emirat Arab langsung menyerukan agar Dewan Kerja Sama Teluk atau GCC segera merapat dan bersatu. Dilansir dari laporan AFP, penasihat presiden UEA, Anwar Gargash, menegaskan lewat akun X pribadinya bahwa tidak ada satu pun negara Teluk yang boleh dibiarkan menghadapi teror ini sendirian. Menurut Gargash, agresi ini tidak hanya menargetkan satu negara, melainkan sebuah tindakan berulang yang mengancam nasib, kepentingan, dan keselamatan seluruh wilayah Teluk. Kini, mata dunia tertuju pada langkah nyata apa yang akan diambil oleh MBS dan koalisi Arab setelah pernyataan keras ini dikeluarkan. Apakah perang skala besar akan benar-benar pecah di tanah Arab?
(dn/red)











Komentar