oleh

HILINA’A BERTANYA: RABAT BETON Rp267 JUTA HANYA TINGGALKAN KERUPUK? BUMDes Rp192 JUTA HANYA TINGGALKAN ANGKA?

GUNGSITOLI — DiscoveryNews.id Ada pepatah bijak di tanah Nias: “Kacang jangan lupa pada kulitnya”. Pepatah itu mengingatkan pejabat bahwa martabatnya tumbuh dari keringat rakyat. Sayangnya, pepatah itu kini terdengar seperti lelucon getir di Desa Hilina’a, Kecamatan Gunungsitoli, Kota Gunungsitoli.

Jumat, 06/06/2026, DPC Ormas Pelita Prabu Kota Gunungsitoli dengan senyum getir menyerahkan laporan ke Kejari Gunungsitoli. Isinya bukan puisi, tapi daftar “dugaan” yang angkanya lebih panjang dari umur rabat betonnya.

Rabat Beton Rp267 Juta, Sisa Cerita dan Kerupuk

Dokumen resmi Pemerintah Kota Gunungsitoli mencatat: “Pembangunan Jalan Lingkungan Perkampungan / Rabat Beton Dusun III” dari Dana Desa 2025. Angkanya gagah: Rp267 juta.

Tapi ketika tim Pelita Prabu datang 1 April 2026 pukul 17.22, yang mereka temukan bukan jalan, melainkan “seni instalasi kerupuk beton”. Permukaannya terkelupas, rapuh, agregatnya lebih mirip bahan kue dari pada infrastruktur.

“Anggarannya Rp267 juta. Kualitasnya… entahlah. Mungkin kontraktornya salah resep. Ini rabat beton atau kue bolu yang lupa dikasih semen?” seloroh Ketua DPC Pelita Prabu Kota Gunungsitoli Happy A. Zalukhu, setengah tersenyum, setengah menahan kecewa.

BUMDes Rp192 Juta, Drama Babi yang Tak Kunjung Tampil

Babak kedua lebih dramatis. APBDes Hilina’a TA 2025 menulis dengan tinta hitam: Dana untuk BUMDes. Katanya untuk ternak babi.

Warga Dusun I, SZ, dengan jujur polos bertanya: “Babinya di mana, Pak? Kandangnya di mana? Yang kami lihat cuma angka di kertas.” Sampai berita ini tayang, babi-babi Rp192 juta itu masih sibuk “latihan menghilang” sehingga Pj Kades dan pengurus BUMDes belum sempat memperkenalkannya ke publik.

Intermezzo: Senyap yang Lebih Nyaring dari Toa Masjid

DiscoveryNews.id dengan etika jurnalistik sudah mengetuk pintu konfirmasi ke Pj Kades Hilina’a dan Camat Gunungsitoli. Sayangnya, jawabannya adalah “hening”. Pesan WA centang biru ke Camat Gunungsitoli dibaca, tapi suaranya hilang ditelan etika… entah etika apa.

Padahal di ruang publik, pesan leluhur masih menggema: “Menghargai perjuangan rakyat adalah cerminan kepemimpinan yang beretika dan bermartabat.” Nah, etika mana yang dipakai saat rakyat bertanya lalu dijawab dengan diam seribu bahasa?

Panggung Diserahkan ke Kejari

Pak Jaksa, panggungnya kami serahkan,” ujar Happy menutup. “Kami hanya warga biasa yang bisa menghitung: Rp267 juta + Rp192 juta = Rp459 juta tanya. Kalau jawabannya diam, berarti matematika pejabat beda dengan matematika rakyat.”

Pelita Prabu meminta Kejari Gunungsitoli segera membuka tirai: sita dokumen, uji betonnya ke laboratorium, panggil semua pemain drama ini. Sebab uang rakyat Kota Gunungsitoli bukan untuk sandiwara. Ia untuk jalan yang benar2 bisa dilalui, bukan untuk “kerupuk beton” yang hanya enak dipotret.

 Redaksi dengan tangan terbuka menanti klarifikasi elegan dari Pj Kades Hilina’a dan Camat Gunungsitoli. Meja kami lebih empuk dari rabat beton Dusun III, silakan duduk dan jelaskan.

Editor : Redpel

Komentar