Beirut, Lebanon discoverynews.id– Selasa, 23 Juni 2026 – Kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang menghentikan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah dinilai membawa keuntungan politik dan strategis bagi kelompok Hizbullah di Lebanon. Sejumlah analis menilai nota kesepahaman yang baru disepakati kedua negara berpotensi memperkuat posisi Hizbullah, baik secara politik maupun finansial.
Pemimpin Hizbullah, Naim Kassem, menyebut kesepakatan tersebut sebagai “kemenangan besar” dan “titik balik penting bagi Lebanon”. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Iran karena memasukkan kepentingan Lebanon dalam proses negosiasi yang berujung pada penghentian pertempuran.
Menurut analis Timur Tengah dari Rajaratnam School of International Studies, James M. Dorsey, isi nota kesepahaman pada tahap awal terlihat lebih menguntungkan Iran dan sekutu-sekutunya, termasuk Hizbullah. Ia menilai kesepakatan tersebut dapat membuka peluang bagi kelompok itu untuk memperoleh keuntungan politik apabila Israel benar-benar menarik pasukannya dari wilayah Lebanon selatan.
Dalam dokumen yang dimediasi Pakistan tersebut, Amerika Serikat dan Iran sepakat menghentikan operasi militer di berbagai wilayah konflik, termasuk Lebanon. Kesepakatan juga menegaskan penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Lebanon.
Selain aspek keamanan, kesepakatan tersebut juga mencakup pencairan aset Iran yang sebelumnya dibekukan serta peluang kembali mengekspor minyak. Sejumlah diplomat kawasan menyebut langkah itu dapat meningkatkan kemampuan finansial Teheran untuk mendukung sekutunya, termasuk Hizbullah.
Pengamat politik Lebanon, Karim Chebaklo, mengatakan membaiknya kondisi ekonomi Iran berpotensi mengurangi tekanan yang selama ini membatasi pendanaan Hizbullah. Menurutnya, jika aliran dana kembali menguat, upaya pemerintah Lebanon untuk melucuti persenjataan kelompok tersebut bisa menjadi lebih sulit.
Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa keuntungan bagi Hizbullah belum sepenuhnya terjamin. Israel dan Hizbullah sendiri tidak menjadi pihak penandatangan dalam kesepakatan tersebut. Sejumlah politisi Israel bahkan menegaskan pasukan mereka tidak akan meninggalkan Lebanon dalam waktu dekat meskipun mendapat tekanan dari Washington.
Sementara itu, pemerintah Lebanon menghadapi tantangan baru karena kesepakatan tersebut memunculkan persepsi bahwa Iran ikut menentukan arah kebijakan negara itu melalui pengaruhnya terhadap Hizbullah. Kondisi ini berpotensi memperumit hubungan antara pemerintah Lebanon, Hizbullah, dan Israel dalam proses menuju perdamaian jangka panjang.
Analis menilai masa depan Lebanon kini bergantung pada implementasi kesepakatan tersebut, terutama terkait kemungkinan penarikan pasukan Israel dari wilayah selatan Lebanon dan upaya pemerintah Beirut memperkuat otoritas negara di tengah pengaruh Hizbullah yang masih besar.
Sumber: Deutsche Welle (DW), Reuters, DetikNews.












Komentar