Surabaya, Discoverynews.id – Gabungan anggota Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) Kwartir Cabang Wonokromo, Surabaya, berhasil menyelesaikan kegiatan ekspedisi dan pendidikan lapangan di kawasan Hutan Padas Payung, Gunung Wilis. Kegiatan yang berlangsung selama tujuh hari ini bertujuan untuk mengasah kemampuan navigasi, bertahan hidup (survival), serta penerapan ilmu komunikasi AM/FM dan signaling yang telah dipelajari dalam latihan rutin.
Selama perjalanan, para peserta melakukan berbagai simulasi komunikasi darurat menggunakan perangkat Handy Talky (HT) dan repeater portable sebagai bagian dari uji coba sistem komunikasi lapangan. Medan yang berat, kondisi cuaca yang fluktuatif, serta minimnya sinyal seluler menjadi tantangan tersendiri bagi tim.
Uji Hambatan Propagasi dan Solusi Kode Morse
Tantangan nyata terjadi pada hari keempat perjalanan menuju titik koordinat ketujuh. Tim komunikasi sempat mengalami kendala ketika salah satu perangkat radio tidak dapat mengirimkan daily log book kepada pos pemantau. Gangguan propagasi akibat kondisi geografis yang tertutup perbukitan dan rimbunnya vegetasi hutan membuat komunikasi suara (audio) tidak dapat berlangsung optimal.
Menghadapi situasi kritis tersebut, para peserta dengan sigap menerapkan metode signaling tradisional dengan mengirimkan kode Morse melalui frekuensi radio yang masih aktif.
Hasilnya, pesan-pesan penting terkait koordinat posisi, kondisi kesehatan personel, serta perkembangan perjalanan berhasil dikirimkan dengan akurat dan diterima dengan baik oleh tim pemantau di posko utama.
Relevansi Keterampilan Tradisional di Era Digital
Ketua rombongan menjelaskan bahwa kendala teknis di lapangan justru menjadi bukti nyata bahwa keterampilan komunikasi tradisional seperti kode Morse tetap relevan dan menjadi penyelamat saat teknologi modern mengalami gangguan.
“Tujuan utama kegiatan ini bukan hanya sekadar menjelajahi alam, tetapi menguji kesiapan mental dan kemampuan anggota dalam menghadapi kondisi nyata di lapangan. Kendala komunikasi yang kami alami justru menjadi pengalaman berharga karena peserta mampu mempraktikkan ilmu fundamental komunikasi lapangan secara langsung,” ujarnya.
Selain fokus pada taktik komunikasi radio AM/FM, selama satu minggu penuh peserta juga dibekali dengan pendalaman materi:
Navigasi Darat: Pemetaan koordinat menggunakan perangkat GPS dan peta kompas.
Survival Dasar: Manajemen logistik dan teknik bertahan hidup di alam bebas.
Manajemen Operasi Lapangan: Pengondisian tim dalam keadaan darurat.
Seluruh rangkaian kegiatan dilaporkan berlangsung dengan aman dan kondusif hingga rombongan kembali ke titik akhir perjalanan sesuai jadwal yang ditentukan.
Keberhasilan ekspedisi ini menjadi bukti kesiapan anggota HW Cabang Wonokromo Surabaya dalam mengombinasikan keterampilan kepanduan, teknologi komunikasi radio, dan ketahanan fisik. Kegiatan serupa diharapkan dapat terus menjadi agenda rutin untuk meningkatkan kapasitas anggota dalam menghadapi berbagai situasi darurat di masa depan.
(Reporter: Yogik)













Komentar