oleh

Trump Nyatakan Gencatan Senjata Berakhir, AS dan Iran Kembali Saling Serang di Kawasan Teluk

WASHINGTON/TEHERAN, DiscoveryNews.id – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata yang sempat berlaku telah berakhir. Pernyataan itu disusul gelombang serangan baru militer AS terhadap sasaran di Iran serta serangan balasan Iran ke pangkalan militer AS di kawasan Teluk.

Menurut laporan The Guardian, militer Amerika Serikat melancarkan sekitar 170 serangan dalam dua malam terakhir yang menyasar berbagai fasilitas militer Iran. Washington menyebut operasi tersebut bertujuan melindungi jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz setelah terjadi serangan terhadap kapal-kapal komersial di kawasan itu.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal dan drone yang menargetkan pangkalan militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Qatar. Otoritas Iran juga mengklaim menyerang sejumlah infrastruktur di Qatar, sementara pemerintah negara-negara Teluk meningkatkan status kewaspadaan menyusul ancaman meluasnya konflik.

Kementerian Kesehatan Iran melaporkan sedikitnya 14 orang tewas dan 78 lainnya luka-luka akibat serangan udara AS dalam dua hari terakhir. Media pemerintah Iran juga menyebut beberapa infrastruktur sipil, termasuk jembatan jalur kereta api, mengalami kerusakan dan menuding serangan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional.

Presiden Donald Trump menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya dicapai tidak lagi berlaku. Ia memperingatkan Iran akan menghadapi tindakan militer yang lebih keras apabila terus melakukan serangan terhadap kapal-kapal maupun kepentingan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Di sisi lain, Teheran menegaskan bahwa kendali atas Selat Hormuz tetap berada di tangan Iran dan mengancam akan memberikan respons lebih besar jika serangan AS berlanjut.

Meningkatnya eskalasi konflik kembali memicu kekhawatiran dunia terhadap keamanan jalur perdagangan energi global. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak paling penting di dunia, sehingga gangguan terhadap kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pasokan energi internasional. Kekhawatiran itu turut mendorong harga minyak dunia naik mendekati US$80 per barel pada perdagangan Kamis (9/7/2026).

Dikutip dari The Guardian, Associated Press (AP), dan The Wall Street Journal, konflik terbaru ini menandai semakin rapuhnya upaya diplomasi yang sebelumnya diharapkan dapat mengakhiri perang antara AS dan Iran. Meski situasi terus memanas, sejumlah negara dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) masih menyerukan deeskalasi serta mendorong kedua pihak kembali ke meja perundingan guna mencegah meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

RED

Komentar