JAKARTA | Discoverynews ~ Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Nany Afrida, melontarkan alarm keras mengenai kondisi media dan kebebasan berekspresi di tanah air yang dinilai sedang berada dalam ancaman nyata. Di hadapan para insan pers dan tamu undangan dalam acara Malam Resepsi Hari Ulang Tahun ke-32 AJI yang dihelat di Hall Dewan Pers, Jakarta, Nany merefleksikan kembali sejarah berdirinya organisasi tersebut yang lahir dari rahim keberanian melawan hegemoni kekuasaan. Menurutnya, fondasi dasar pendirian AJI adalah keyakinan mutlak bahwa pers tidak boleh tunduk menjadi instrumen kekuasaan ataupun sekadar corong manis bagi pemerintah, sebab mandat utama seorang jurnalis adalah memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang sejujur-jujurnya mengenai apa yang sedang terjadi di negara ini.
Namun, ironisnya, setelah lebih dari tiga dekade berlalu, tantangan yang dihadapi dunia jurnalistik Indonesia justru semakin kompleks dan menuntut keberanian yang sama besarnya seperti masa lalu. Nany memaparkan bahwa ancaman terhadap kebebasan pers hari ini tidak lagi sekadar urusan peliknya tekanan ekonomi yang membuat industri media megap-megap untuk bertahan hidup, atau disrupsi perubahan teknologi yang mengubah lanskap kerja redaksi secara drastis, melainkan penyempitan ruang kebebasan itu sendiri akibat represi dan tekanan struktural. Situasi ini diperparah dengan maraknya berbagai bentuk intimidasi di lapangan, mulai dari kekerasan fisik, serangan digital, perampasan alat kerja, upaya kriminalisasi terhadap karya jurnalistik, hingga intervensi terang-terangan terhadap independensi ruang redaksi. Data statistik yang dicatat oleh AJI menunjukkan tren mengkhawatirkan dengan puluhan kasus kekerasan terhadap jurnalis yang terus berulang setiap tahunnya, membuktikan bahwa setiap angka statistik tersebut merepresentasikan teror nyata terhadap keselamatan fisik maupun psikis para pekerja media.
Menanggapi berbagai stigma miring, label merendahkan, hingga cap buruk seperti sebutan “londo ireng” atau pengkhianat yang kerap dialamatkan kepada jurnalis ketika karya liputan mereka tidak sejalan dengan selera penguasa, Nany menanggapinya dengan kepala tegak dan penuh ketegasan. Ia menyatakan bahwa jika sikap kritis, keberanian membongkar fakta, dan penolakan tunduk pada kemauan penguasa dianggap sebagai sebuah pengkhianatan, maka para jurnalis siap berdiri di jalur tersebut demi memegang teguh integritas serta kode etik profesi. Begitu pula ketika profesi jurnalis diolok-olok sebagai pekerjaan orang yang tidak memiliki akal sehat karena terus memilih jalan berisiko di tengah ancaman kekerasan dan ketidakpastian ekonomi, Nany menegaskan bahwa para jurnalis mungkin dicap demikian, namun mereka tetap memiliki nurani, integritas, dan keberanian moral untuk terus membuka dokumen serta menyuarakan kebenaran. Solidaritas antarjurnalis yang sering kali dicap sinis sebagai kawanan sirkus justru dibalikkan menjadi kekuatan kolektif yang solid, menegaskan bahwa tidak ada seorang jurnalis pun yang boleh dibiarkan berjuang sendirian ketika menghadapi rongrongan kekuasaan.
Mengakhiri refleksi tajam tersebut, Nany mengingatkan dengan tegas kepada seluruh elemen negara bahwa jurnalis bukanlah musuh negara, kritik bukanlah bentuk makar, dan investigasi mendalam bukanlah provokasi murahan. Ia menegaskan bahwa kebebasan pers bukanlah sebuah hadiah atau belas kasihan yang dilimpahkan oleh penguasa, melainkan hak fundamental publik yang harus dijamin negara agar ruang demokrasi di Indonesia tetap bernapas. Di tengah badai tekanan yang menerpa, AJI menyerukan agar seluruh jurnalis di tanah air untuk tidak pernah menyerah, terus bersuara, dan menjaga kewarasan publik demi merawat perisai terakhir demokrasi bangsa.
(Red)










Komentar