HW Hotel kota Padang, Sumbar. Discoverynews.id.
Dalam rangka mencerdaskan pemilih terutama pemilih pemula agar tidak buta politik Kesbangpol propinsi sumatera barat dengan dana aspirasi dari anggota DPRD propinsi fraksi PKS ustadz Syofian Hendri, S.Pd.I., MM mengangkatkan kegiatan bimtek pendidikan politik, kegiatan ini dihadiri oleh tokoh masyarakat dari 5 kabupaten kota disumatera Barat meliputi kota Sawahlunto,kota Padang panjang,kabupaten dhamasraya,kabupaten Sijunjung dan kabupaten Tanah datar.
Semangat itulah yang mengemuka dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Pendidikan Politik bagi Tokoh Masyarakat Daerah Pemilihan (Dapil) VI Sumatera Barat, yang digelar di HW Hotel, Kota Padang.
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Kesbangpol Provinsi Sumatera Barat melalui dana aspirasi anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat dari Fraksi PKS, Ustadz Syofian Hendri, S.Pd.I., M.M.
Bimtek ini diikuti para tokoh masyarakat yang berasal dari lima kabupaten/kota di Sumatera Barat, yakni Kota Sawahlunto, Kota Padang Panjang, Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Sijunjung dan Kabupaten Tanah Datar.
Kegiatan ini menjadi semakin strategis karena menyasar para tokoh masyarakat yang diharapkan tidak hanya memahami politik untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu menjadi sumber edukasi bagi masyarakat di lingkungannya.
Dr. Edo: Jangan Jadi Pemilih karena Kedekatan
Memasuki hari kedua, materi pendidikan politik disampaikan oleh Dr. Edo Andrefson, S.E., M.M., Direktur Eksekutif/Direktur SBLF Riset & Consultant (Sumatera Barat Leadership Forum).
Edo dikenal aktif memimpin berbagai riset opini publik, survei politik serta pemetaan sosial di wilayah Sumatera Barat. Ia juga aktif merilis dan menganalisis data terkait pelaksanaan pemilihan umum maupun pemilihan kepala daerah.
Dalam paparannya, Edo mengupas mengenai strategi pendidikan pemilih serta pentingnya membangun kesadaran masyarakat agar mampu menjadi pemilih yang cerdas.
Menurutnya, kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya masyarakat yang datang ke tempat pemungutan suara, tetapi juga oleh kualitas keputusan yang diambil ketika menentukan pilihan.
Pemilih, kata dia, hendaknya tidak menjadikan faktor kedekatan pribadi, kesukuan, hubungan keluarga maupun kepentingan sesaat sebagai satu-satunya dasar dalam menentukan pilihan.
Sebaliknya, masyarakat perlu melihat kapasitas, integritas, rekam jejak, kompetensi dan kualitas personal calon yang akan dipilih.
Sebab, ketika seseorang memberikan suara dalam pemilu, sesungguhnya ia sedang memberikan mandat kepada orang lain untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Dengan demikian, memilih bukan sekadar mencoblos nama atau tanda gambar, tetapi merupakan proses menitipkan amanah kepada seseorang untuk mewakili kepentingan rakyat.
Syofian Hendri: Tokoh Masyarakat Harus Jadi Stimulator Kebaikan
Sementara itu, anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat dari Fraksi PKS, Syofian Hendri, mengatakan pendidikan politik sangat penting dilakukan secara berkelanjutan.
Menurutnya, masyarakat harus diberikan pemahaman yang memadai agar tidak apatis terhadap politik dan mampu memahami bahwa politik memiliki hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari serta masa depan bangsa.
“Kegiatan ini sangat penting bagi masyarakat agar tentunya masyarakat melek dengan politik dan kepentingan bangsa,” ujar Syofian.
Ia berharap para tokoh masyarakat yang mengikuti kegiatan tersebut dapat membawa pulang pengetahuan dan wawasan yang diperoleh untuk kemudian disampaikan kembali kepada masyarakat di daerah masing-masing.
“Semoga dari kegiatan ini para tokoh masyarakat dari kabupaten/kota yang kami undang dapat menjadi stimulator menyebarkan kebaikan di tengah masyarakat,” tambah Syofian.
Ia menilai, semakin banyak masyarakat yang memahami politik secara sehat dan objektif, maka semakin besar pula peluang terwujudnya proses demokrasi yang berkualitas.
Pendidikan politik pun diharapkan tidak berhenti di ruang pertemuan. Para peserta diharapkan mampu menjadi jembatan informasi sekaligus penggerak literasi politik di tengah masyarakat, sehingga pemilih tidak mudah terjebak pada politik identitas, informasi yang menyesatkan, maupun pilihan yang hanya didasarkan pada kedekatan emosional.
Pada akhirnya, demokrasi yang sehat membutuhkan pemilih yang cerdas. Sebab, kualitas pemimpin yang lahir dari sebuah pemilihan sangat dipengaruhi oleh kualitas masyarakat dalam menentukan pilihannya.















Komentar