KALIMANTAN | Discoverynews ~ Kalimantan kini berdiri tegak sebagai episentrum utama kekuatan industri kelapa sawit dan pertambangan di Indonesia, membentangkan pengaruh ekonominya yang massif di seluruh pelosok wilayah. Di bawah hamparan hijau dan kaya aset bumi tersebut, konsentrasi penguasaan lahan berskala besar berada di tangan segelintir kelompok usaha konglomerasi yang mengendalikan aset hingga ratusan ribu hektare. Fenomena monopoli sumber daya alam ini memperlihatkan bagaimana daratan Borneo dialokasikan secara agresif demi menopang produksi komoditas global, menegaskan cengkeraman kuat korporasi besar dalam menentukan porsi ekonomi nasional.
Pada sektor kelapa sawit, dominance raksasa perkebunan terlihat nyata melalui penguasaan wilayah operasional yang amat luas. Bumitama Agri tercatat mengelola sekitar 184 ribu hektare lahan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, berhasil membukukan produksi sebesar 3,43 juta ton Tandan Buah Segar (TBS) serta 1,18 juta ton Crude Palm Oil (CPO) pada tahun 2025. Langkah ini beriringan dengan Sawit Sumbermas Sarana (SSMS) milik Abdul Rasyid AS di bawah jaringan Citra Borneo Indah yang menguasai 136 ribu hektare di Kalimantan Tengah, serta Astra Agro Lestari yang membentangkan sekitar 46 persen dari total 285 ribu hektare lahan nasionalnya di tanah Kalimantan.
Sektor pertambangan batubara menunjukkan eskalasi eksploitasi skala raksasa yang tidak kalah intensif di berbagai area konsesi. Bayan Resources mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pemain terbesar melalui kepemilikan lebih dari 126 ribu hektare konsesi dengan volume produksi mengeruk sekitar 68 juta ton batu bara sepanjang 2025. Peran mendominasi ini diperkuat oleh PT Adaro Andalan Indonesia Tbk yang mencatatkan produksi batu bara sebesar 68,73 juta ton dengan basis operasional utama di Kalimantan Selatan, serta Bumi Resources lewat Kaltim Prima Coal dan Arutmin Indonesia yang menguasai 95 ribu hektare konsesi untuk memanen gabungan produksi sekitar 68 juta ton. Tidak ketinggalan, Kideco Jaya Agung di bawah naungan Indika Energy turut menyumbang pengerukan sebesar 30,5 juta ton batu bara dari Kalimantan Timur.
Akumulasi data operasional ini mempertegas peta realitas baru di mana dominasi penguasaan tanah dan kekayaan alam Kalimantan kian terkonsentrasi secara masif pada beberapa konglomerasi bisnis. Gurita bisnis di sektor kelapa sawit maupun pertambangan ini tidak hanya mencerminkan lonjakan angka produksi komoditas semata, melainkan juga memperlihatkan tingkat ketergantungan wilayah terhadap ekspansi industri skala besar. Konsolidasi lahan yang kian menebal ini terus memicu diskusi mendalam mengenai batas ketahanan ekologis pulau Borneo di tengah arus eksploitasi sumber daya yang kian masif.
#savekalimantan















Komentar